Miris! 1.200 Anak di Kulonprogo Putus Sekolah, Ini Datanya
Kasus anak tidak sekolah di Kulonprogo capai 1.200 orang. Faktor ekonomi hingga persepsi jadi penyebab utama.
Foto ilustrasi campak. - Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO— Kasus campak di Kabupaten Kulonprogo pada awal 2026 menunjukkan tren tak biasa. Penyakit yang identik menyerang anak-anak itu kini mulai ditemukan pada kelompok usia dewasa. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) memastikan kondisi ini belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).
Hingga pekan ke-15 2026, Dinkes mencatat ratusan kasus suspek, namun hanya sebagian kecil yang terkonfirmasi positif setelah pemeriksaan laboratorium—indikasi bahwa situasi masih terkendali.
Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, menyampaikan terdapat 228 suspek campak yang telah diperiksa. Dari jumlah tersebut, delapan kasus dinyatakan positif.
“Dari 228 suspek ini, yang positif ada delapan. Lima kasus merupakan campak, sementara tiga lainnya adalah rubela,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Ia menegaskan seluruh pasien yang terkonfirmasi kini telah pulih.
Fenomena yang menjadi perhatian adalah pergeseran usia penderita. Jika sebelumnya campak didominasi anak-anak, kini kasus justru banyak ditemukan pada orang dewasa, meski sebagian besar memiliki riwayat imunisasi.
“Trennya bergeser ke usia dewasa. Padahal rata-rata sudah pernah vaksinasi,” jelasnya.
Sebaran kasus positif tersebut ditemukan di beberapa kapanewon, antara lain Samigaluh, Lendah, Sentolo, dan Galur. Namun, pola penyebaran masih sporadis dan tidak terkonsentrasi di satu wilayah, sehingga belum memenuhi kriteria KLB.
Menurut Susilaningsih, munculnya kasus ini juga dipengaruhi oleh masih adanya penolakan imunisasi di sebagian masyarakat. Hal ini berdampak pada belum optimalnya kekebalan kelompok atau herd immunity.
“Kami terus mengedukasi masyarakat bahwa imunisasi penting. Jika tidak diimunisasi, seseorang berisiko tertular sekaligus menularkan ke orang lain,” tegasnya.
Dinkes terus melakukan pemantauan melalui laporan mingguan sistem W2 untuk memastikan tidak terjadi penularan meluas.
Sementara itu, Direktur RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo, Baning Rahayujati, menyebut pihaknya sempat menerima tiga pasien suspek campak rujukan dari puskesmas.
“Dua pasien dirawat inap dan satu rawat jalan. Namun hasil laboratorium semuanya negatif dan saat ini sudah pulang,” jelasnya.
Dinkes memastikan upaya edukasi dan penguatan imunisasi akan terus digencarkan guna mencegah lonjakan kasus di kemudian hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus anak tidak sekolah di Kulonprogo capai 1.200 orang. Faktor ekonomi hingga persepsi jadi penyebab utama.
Barcelona gagal mencapai 100 poin usai kalah dari Deportivo Alaves. Hansi Flick tetap puas dengan performa pemain muda Blaugrana.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.