Bantuan Modal UMKM di Bantul Diperluas, Fokus Warga Miskin Ekstrem
Pemkab Bantul akan memperluas bantuan modal UMKM Rp2 juta bagi warga desil 1, 2, dan 3 untuk menekan kemiskinan ekstrem.
Ilustrasi Kekeringan - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Musim kemarau panjang Bantul 2026 diprediksi lebih kering, petani diimbau beralih ke tanaman palawija seperti jagung dan kacang untuk menjaga produktivitas.
Dinas terkait di Kabupaten Bantul mengimbau petani untuk menanam palawija selama musim kemarau tahun ini yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering. Tanaman seperti kacang panjang, jagung, dan kacang tanah dinilai lebih adaptif terhadap keterbatasan air.
Salah satu petani di Kapanewon Dlingo, Waston Nurhadi, mengungkapkan bahwa wilayahnya kerap mengalami kekeringan saat kemarau, bahkan pompa air yang disediakan pemerintah tidak dapat dimanfaatkan karena sumber air mengering.
Petani setempat pun telah menyiapkan strategi dengan memilih komoditas palawija seperti jagung, kacang tanah, cabai, dan terung. Sementara untuk lahan yang benar-benar kering, mereka beralih ke tanaman kacang koro atau kacang benguk yang lebih tahan kondisi ekstrem.
“Untuk kacang benguk ini cukup mahal harganya, biasanya untuk tempe benguk atau tempe koro itu,” jelas Waston, Sabtu (2/5/2026).
Ia menambahkan, sebagian besar lahan pertanian di Dlingo tidak memungkinkan ditanami padi karena kondisi geografis berbukit dan minim sumber air, terutama di kawasan Mangunan dan Terong yang dikenal cukup tandus.
“Kalau pompa memang ada, tapi yang dipompa kan enggak ada karena kering sekali. Kecuali daerah yang memang dekat Sungai Oyo, itu bisa dengan pompa air atau dengan sumur,” ungkapnya.
Selain keterbatasan air, petani juga menghadapi penurunan produktivitas saat musim kemarau. Waston menyebut hasil panen jagung yang biasanya mencapai sembilan ton per hektare bisa turun menjadi sekitar enam hingga tujuh ton.
Ancaman lain datang dari serangan monyet ekor panjang yang masih menjadi persoalan tanpa solusi permanen. Untuk sementara, petani hanya mengandalkan cara manual untuk mengusir hama tersebut.
“Contohnya jagung, biasanya bisa mencapai sembilan ton, sementara kalau kemarau mungkin turun hanya menjadi enam atau tujuh ton per hektare. Belum lagi serangan MEP yang belum ada solusi konkret, untuk sementara ya kami pakai cara manual untuk mengusir,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, menyarankan petani menanam komoditas berumur pendek selama musim kemarau agar tetap produktif meski pasokan air terbatas.
Ia menyebut palawija maupun padi berumur singkat dapat menjadi alternatif karena kebutuhan airnya relatif lebih sedikit dibanding tanaman lain.
“Kami juga sudah siapkan pompa bagi daerah yang mungkin kekeringan. Sudah hampir 5.000 unit pompa kami sediakan,” ujarnya.
Menurut Joko, seluruh wilayah di Bantul pada dasarnya cocok untuk budidaya palawija saat musim kemarau. Pihaknya juga akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca guna memastikan target produksi pertanian tetap terjaga di tengah potensi kekeringan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul akan memperluas bantuan modal UMKM Rp2 juta bagi warga desil 1, 2, dan 3 untuk menekan kemiskinan ekstrem.
Polres Gunungkidul kembali membuka layanan SIM Keliling baik untuk SIM A maupun C.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Membonceng anak naik motor butuh perhatian khusus. DAM berikan 4 tips: pastikan kaki menapak footstep, bisa berpegangan, siap naik-turun, dan pakai helm SNI.
Ramalan zodiak 12 Agustus 2026: Gerhana di Leo bawa energi kuat. 5 zodiak diprediksi kurang beruntung, cek nasib asmara, karier, dan keuangan Anda hari ini!
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa