Kebakaran Gunungkidul 154 Kasus, Kerugian Rp2,96 Miliar dan Tewaskan 2 Orang
Kebakaran Gunungkidul mencapai 154 kasus hingga September 2026 dengan kerugian Rp2,96 miliar dan dua warga meninggal dunia.
Ilustrasi normalisasi./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul bakal melanjutkan proyek normalisasi luweng yang telah dimulai sejak 2025 lalu. Tahun ini, normalisasi difokuskan pada Luweng Gabluk yang berlokasi di Kalurahan Kenteng, Ponjong.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono, menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya krusial untuk mencegah banjir di wilayah Bumi Handayani. Menurutnya, luweng berfungsi sebagai media penyerapan air utama agar tidak terjadi genangan saat musim hujan.
“Kalau mulut luweng tersumbat, maka aliran tidak lancar sehingga memicu terjadinya genangan atau banjir. Makanya, kami menggalakkan program normalisasi luweng agar aliran bisa lancar,” kata Sigit, Selasa (2/6/2026).
Detail Pengerjaan dan Anggaran
Proyek ini menyasar Luweng Gabluk karena kondisi sedimentasi yang sudah akut serta tersumbat tumpukan sampah, sehingga fungsinya sebagai penyerap air hujan tidak maksimal.
Untuk pelaksanaan, Sigit mengungkapkan, pemkab sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp175 juta. Rencananya, pengerjaan mulai dilaksanakan Agustus mendatang melalui mekanisme pengadaan langsung.
“Saat ini masih dalam perencanaan karena normalisasi baru dilaksanakan Agustus. Harapanya bisa selesai dalam waktu 60 hari,” katanya.
Sigit menambahkan, Luweng Gabluk butuh normalisasi karena sudah terjadi sedimentasi yang akut sehingga fugnsi sebagai penyerap air hujan tidak maksimal. Selain itu, juga tersumbat oleh tumpukan sampah sehingga menimbulkan genangan air di permukiman warga saat terjadi hujan deras.
“Nantinya akan dikeruk dan dibuatkan saluran drainase agar aliran bisa lebih lancar sehingga potensi banjir bisa berkurang,” tambah Sigit.
Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Kepala DPUPRKP Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto, menegaskan bahwa dampak bencana hidrometeorologi harus diwaspadai. Selain normalisasi luweng, pihaknya juga melakukan upaya pencegahan melalui pengerukan aliran sungai di kawasan perkotaan, seperti di Gadungsari hingga Padukuhan Trimulyo, Kepek.
Pengerukan dilakukan untuk mengatasi pendangkalan akibat sedimentasi. Selain pengerukan, program juga mencakup pembangunan talut untuk menjaga kelancaran aliran air dan mencegah luapan sungai.
“Kami terus berupaya agar tidak terjadi banjir sehingga sejumlah program pencegahan terus dijalankan secara berkelanjutan,” tutup Rakhmadian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kebakaran Gunungkidul mencapai 154 kasus hingga September 2026 dengan kerugian Rp2,96 miliar dan dua warga meninggal dunia.
Arema FC gagal meraih tiga poin setelah ditahan Persik Kediri 1-1 di Stadion Kanjuruhan, Jumat (18/9/2026).
Karhutla Gunung Lawu masih menyisakan kepulan asap di perbatasan petak 39 dan 41 Ngawi. Tim gabungan terus membuat ilaran.
Febrie Adriansyah buka suara usai dilimpahkan ke Kejari Jaksel terkait dugaan pemerasan dalam perkara Asabri dan Jiwasraya.
APBN hingga Agustus 2026 defisit Rp240,1 triliun. Pembayaran bunga utang pemerintah mencapai Rp394,1 triliun.
Pesawat F-2000 Italia terkena serangan di Pangkalan Udara Ta'if, Arab Saudi, saat serangkaian serangan terjadi di kawasan tersebut.