Normalisasi Luweng Gabluk Gunungkidul Dimulai Agustus 2026

David Kurniawan
David Kurniawan Selasa, 02 Juni 2026 12:57 WIB
Normalisasi Luweng Gabluk Gunungkidul Dimulai Agustus 2026

Ilustrasi normalisasi./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul bakal melanjutkan proyek normalisasi luweng yang telah dimulai sejak 2025 lalu. Tahun ini, normalisasi difokuskan pada Luweng Gabluk yang berlokasi di Kalurahan Kenteng, Ponjong.

Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono, menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya krusial untuk mencegah banjir di wilayah Bumi Handayani. Menurutnya, luweng berfungsi sebagai media penyerapan air utama agar tidak terjadi genangan saat musim hujan.

“Kalau mulut luweng tersumbat, maka aliran tidak lancar sehingga memicu terjadinya genangan atau banjir. Makanya, kami menggalakkan program normalisasi luweng agar aliran bisa lancar,” kata Sigit, Selasa (2/6/2026).

Detail Pengerjaan dan Anggaran

Proyek ini menyasar Luweng Gabluk karena kondisi sedimentasi yang sudah akut serta tersumbat tumpukan sampah, sehingga fungsinya sebagai penyerap air hujan tidak maksimal.

Untuk pelaksanaan, Sigit mengungkapkan, pemkab sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp175 juta. Rencananya, pengerjaan mulai dilaksanakan Agustus mendatang melalui mekanisme pengadaan langsung.

“Saat ini masih dalam perencanaan karena normalisasi baru dilaksanakan Agustus. Harapanya bisa selesai dalam waktu 60 hari,” katanya.

Sigit menambahkan, Luweng Gabluk butuh normalisasi karena sudah terjadi sedimentasi yang akut sehingga fugnsi sebagai penyerap air hujan tidak maksimal. Selain itu, juga tersumbat oleh tumpukan sampah sehingga menimbulkan genangan air di permukiman warga saat terjadi hujan deras.

“Nantinya akan dikeruk dan dibuatkan saluran drainase agar aliran bisa lebih lancar sehingga potensi banjir bisa berkurang,” tambah Sigit.

Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Kepala DPUPRKP Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto, menegaskan bahwa dampak bencana hidrometeorologi harus diwaspadai. Selain normalisasi luweng, pihaknya juga melakukan upaya pencegahan melalui pengerukan aliran sungai di kawasan perkotaan, seperti di Gadungsari hingga Padukuhan Trimulyo, Kepek.

Pengerukan dilakukan untuk mengatasi pendangkalan akibat sedimentasi. Selain pengerukan, program juga mencakup pembangunan talut untuk menjaga kelancaran aliran air dan mencegah luapan sungai.

“Kami terus berupaya agar tidak terjadi banjir sehingga sejumlah program pencegahan terus dijalankan secara berkelanjutan,” tutup Rakhmadian.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online