Rokok Ilegal Diduga Picu Dana Cukai Gunungkidul Turun Drastis
Dana cukai tembakau untuk Gunungkidul turun jadi Rp1,48 miliar pada 2026. Rokok ilegal diduga memicu penurunan penerimaan negara.
Ilustrasi normalisasi./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul bakal melanjutkan proyek normalisasi luweng yang telah dimulai sejak 2025 lalu. Tahun ini, normalisasi difokuskan pada Luweng Gabluk yang berlokasi di Kalurahan Kenteng, Ponjong.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono, menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya krusial untuk mencegah banjir di wilayah Bumi Handayani. Menurutnya, luweng berfungsi sebagai media penyerapan air utama agar tidak terjadi genangan saat musim hujan.
“Kalau mulut luweng tersumbat, maka aliran tidak lancar sehingga memicu terjadinya genangan atau banjir. Makanya, kami menggalakkan program normalisasi luweng agar aliran bisa lancar,” kata Sigit, Selasa (2/6/2026).
Detail Pengerjaan dan Anggaran
Proyek ini menyasar Luweng Gabluk karena kondisi sedimentasi yang sudah akut serta tersumbat tumpukan sampah, sehingga fungsinya sebagai penyerap air hujan tidak maksimal.
Untuk pelaksanaan, Sigit mengungkapkan, pemkab sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp175 juta. Rencananya, pengerjaan mulai dilaksanakan Agustus mendatang melalui mekanisme pengadaan langsung.
“Saat ini masih dalam perencanaan karena normalisasi baru dilaksanakan Agustus. Harapanya bisa selesai dalam waktu 60 hari,” katanya.
Sigit menambahkan, Luweng Gabluk butuh normalisasi karena sudah terjadi sedimentasi yang akut sehingga fugnsi sebagai penyerap air hujan tidak maksimal. Selain itu, juga tersumbat oleh tumpukan sampah sehingga menimbulkan genangan air di permukiman warga saat terjadi hujan deras.
“Nantinya akan dikeruk dan dibuatkan saluran drainase agar aliran bisa lebih lancar sehingga potensi banjir bisa berkurang,” tambah Sigit.
Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Kepala DPUPRKP Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto, menegaskan bahwa dampak bencana hidrometeorologi harus diwaspadai. Selain normalisasi luweng, pihaknya juga melakukan upaya pencegahan melalui pengerukan aliran sungai di kawasan perkotaan, seperti di Gadungsari hingga Padukuhan Trimulyo, Kepek.
Pengerukan dilakukan untuk mengatasi pendangkalan akibat sedimentasi. Selain pengerukan, program juga mencakup pembangunan talut untuk menjaga kelancaran aliran air dan mencegah luapan sungai.
“Kami terus berupaya agar tidak terjadi banjir sehingga sejumlah program pencegahan terus dijalankan secara berkelanjutan,” tutup Rakhmadian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dana cukai tembakau untuk Gunungkidul turun jadi Rp1,48 miliar pada 2026. Rokok ilegal diduga memicu penurunan penerimaan negara.
Penumpang kereta api di Jogja tembus 342 ribu saat libur panjang 2026, naik 45 persen. Stasiun Jogja jadi yang tersibuk.
Bocoran Oppo Find X10 Pro Max terbaru: kamera 200MP, layar 2K, baterai 7.000 mAh, dan chipset Dimensity 9600.
Reaktivasi Bandara Adisutjipto diyakini dongkrak wisata, UMKM, dan ekonomi Sleman. Ini dampak dan strateginya.
Pemkot Jogja memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 dengan menggelar kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis di Balai Kota Jogja, Selasa (2/6)
Cara cek PIP 2026 secara online pakai NISN dan NIK, lengkap syarat penerima dan besaran bantuan terbaru.