Jalan Palagan Sleman Rusak di 7 Titik, Perbaikan Butuh Rp24 Miliar
Jalan Palagan Sleman rusak di tujuh titik dan butuh perbaikan drainase. DPRD DIY mendorong anggaran sekitar Rp24 miliar melalui APBD.
Suasana Jalan Malioboro saat penerapan Car Free Day, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA— Rencana penerapan Malioboro full pedestrian pada akhir November 2026 membuat pengemudi ojek online (ojol) khawatir. Pembatasan kendaraan di kawasan tersebut dinilai berpotensi menyulitkan driver mengejar batas waktu pengambilan pesanan, terutama layanan makanan dan barang.
Ketua Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) DIY, Rie Rahmawati, mengatakan perubahan akses kendaraan di Malioboro berpotensi membuat driver membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai titik pengambilan pesanan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan tidak hanya berpengaruh terhadap layanan kepada konsumen, tetapi juga performa driver dalam aplikasi. Menurut Rie, persoalan dapat muncul pada pesanan makanan, barang, maupun layanan transportasi penumpang.
“Kalau Malioboro dijadikan full pedestrian, kesulitannya nanti di titik ambil orderan. Untuk penumpang juga kesulitan, begitu juga untuk makanan dan barang,” kata Rie, Senin (5/10/2026).
Ojol Khawatir Order Makanan Terlambat
Menurut Rie, layanan pesan-antar makanan menjadi salah satu yang paling berpotensi terdampak. Driver memiliki batas waktu yang diberikan aplikator untuk tiba di restoran setelah menerima pesanan.
Jika batas waktu tersebut terlewati, pesanan dapat dibatalkan oleh sistem. Kondisi itu kemudian berpotensi memengaruhi performa driver yang bersangkutan di dalam aplikasi.
Rie mengatakan persoalan serupa sebenarnya sudah dirasakan pengemudi ojol ketika Malioboro Car Free Night. Driver yang mendapatkan pesanan dari lokasi yang cukup jauh harus menghadapi kepadatan lalu lintas sebelum mencapai kawasan Malioboro.
“Misalnya ambilnya tiga kilometer, sampai sini sudah kena macet, waktunya tidak cukup sampai ke resto,” katanya.
Dengan penerapan Malioboro full pedestrian, persoalan akses tersebut dikhawatirkan semakin terasa. Driver perlu menyesuaikan perjalanan untuk mencapai titik pengambilan pesanan yang berada di kawasan Malioboro.
Penjemputan Penumpang Juga Jadi Persoalan
Tidak hanya layanan makanan dan barang, pembatasan kendaraan juga berpotensi menimbulkan persoalan pada layanan penjemputan penumpang.
Rie mengatakan driver terkadang mendapatkan permintaan untuk menjemput penumpang di lokasi yang tidak dapat dimasuki kendaraan. Akibatnya, driver harus mencari titik lain yang memungkinkan untuk bertemu dengan penumpang.
Kondisi tersebut juga berpotensi memunculkan laporan dari penumpang dan memengaruhi penilaian terhadap driver. Dampaknya kemudian dapat berlanjut pada sistem level serta insentif yang diterima pengemudi dalam aplikasi.
“Kalau performa kita turun, kita akan sulit mendapatkan orderan. Ada sistem leveling di driver, itu juga akan menurunkan leveling kita,” ujarnya.
Rie menegaskan penurunan level tidak otomatis membuat driver diberhentikan dari aplikator. Namun, jumlah insentif dan peluang mendapatkan orderan dapat ikut berkurang.
“Biasanya teman-teman dapat lima, bisa cuma dapat satu. Sehari kadang tidak dapat,” katanya.
Ojol Minta Pemerintah dan Aplikator Cari Solusi
Wakanda DIY berharap penerapan Malioboro full pedestrian dibahas bersama seluruh pihak yang berkaitan dengan layanan ojol. Rie menyebut pemerintah, pemilik restoran, aplikator, driver, serta stakeholder terkait perlu duduk bersama sebelum kebijakan tersebut diterapkan.
Menurutnya, perubahan akses di kawasan Malioboro harus diikuti solusi yang mempertimbangkan kebutuhan seluruh pihak. Dengan begitu, kebijakan pedestrian tidak hanya memperhatikan kepentingan kawasan, tetapi juga keberlangsungan layanan pesan-antar dan transportasi online.
“Yang diharapkan tetap ada pertemuan lagi dengan pemilik resto, aplikator, dan driver. Sama stakeholder terkait agar ada solusi terbaik untuk semuanya, tidak hanya buat driver, tapi juga resto dan aplikator,” ujarnya.
Dishub Siapkan Titik Penjemputan Ojol
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Rizki Budi Utomo, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dishub Kota Jogja untuk menentukan titik penjemputan ojol di kawasan Malioboro ketika kebijakan full pedestrian diterapkan.
Selain penentuan titik penjemputan, Rizki menilai sistem aplikasi ojol juga perlu menyesuaikan kondisi khusus yang ada di kawasan Malioboro.
Menurut dia, karakteristik akses di Malioboro berbeda dengan kawasan lain sehingga waktu yang diberikan kepada driver untuk mengambil pesanan perlu mempertimbangkan kondisi tersebut.
“Mengambil pesanan di kawasan Malioboro tidak bisa disamakan dengan di luar kawasan tersebut, jeda waktunya harus lebih lama,” kata Rizki.
Dengan adanya rencana penentuan titik penjemputan dan penyesuaian sistem aplikasi, persoalan akses bagi pengemudi ojol diharapkan dapat diantisipasi sebelum Malioboro full pedestrian mulai diterapkan pada akhir November 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jalan Palagan Sleman rusak di tujuh titik dan butuh perbaikan drainase. DPRD DIY mendorong anggaran sekitar Rp24 miliar melalui APBD.
Gebyar Batik Sleman 2026 digelar dengan bazar, diskon hingga 50 persen, serta edukasi sertifikasi halal bagi pelaku IKM.
Tarif listrik kuartal IV 2026 segera ditetapkan. Bahlil Lahadalia memberi sinyal tarif listrik kemungkinan tidak mengalami kenaikan.
Dua harimau Sumatra lahir di Kebun Binatang Fort Worth, Texas, menjadi simbol komitmen konservasi dan persahabatan Indonesia-AS.
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
Malioboro full pedestrian akhir November 2026 dikhawatirkan membuat ojol terlambat mengambil order makanan dan berdampak pada performa driver.