Harianjogja.com, JOGJA—Stimulus diskon transportasi menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027 diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat untuk berwisata ke DIY. Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY menilai kebijakan tersebut dapat membantu menekan biaya perjalanan sekaligus menggerakkan sektor pariwisata daerah.
Humas DPD Asita DIY, Iwan Sulistyanto, mengatakan biaya transportasi menjadi salah satu komponen penting dalam perencanaan perjalanan wisata. Dengan adanya potongan harga, masyarakat diharapkan memiliki lebih banyak kesempatan untuk merealisasikan rencana liburan.
"Asita DIY tentu menyambut baik kebijakan pemerintah yang memberikan stimulus berupa diskon transportasi menjelang Nataru," ujarnya, Sabtu (7/11/2026).
Menurut Iwan, biaya perjalanan yang lebih terjangkau dapat memengaruhi keputusan masyarakat dalam menentukan tujuan liburan. Mereka yang sebelumnya masih mempertimbangkan besarnya anggaran berpeluang merealisasikan rencana perjalanan setelah memperoleh stimulus tersebut.
Meski demikian, dia berharap kebijakan diskon juga disertai kemudahan memperoleh informasi, ketersediaan layanan transportasi, serta koordinasi dengan pelaku industri pariwisata. Dukungan tersebut diperlukan agar manfaat stimulus dapat dirasakan secara optimal.
Iwan menyebut DIY memiliki beragam potensi untuk menjadi tujuan wisata akhir tahun. Pilihannya meliputi wisata budaya, sejarah, alam, kuliner, desa wisata, hingga berbagai atraksi dengan rentang anggaran yang berbeda.
"Tetapi menurut kami, diskon transportasi saja tidak cukup. Perlu didukung dengan paket wisata yang menarik dan kompetitif, promosi destinasi, kesiapan pelaku wisata, serta kepastian bahwa wisatawan mendapatkan pengalaman perjalanan yang aman dan nyaman," jelasnya.
Asita Harap Lama Tinggal dan Belanja Wisatawan Meningkat
Asita DIY berharap stimulus transportasi tidak hanya berdampak pada peningkatan jumlah perjalanan. Kebijakan tersebut juga diharapkan memperpanjang lama tinggal atau length of stay serta meningkatkan belanja wisatawan selama berada di DIY.
Dengan begitu, manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha pariwisata. Dampak ekonomi diharapkan tidak berhenti pada sektor transportasi, tetapi turut dirasakan oleh berbagai usaha yang berkaitan dengan aktivitas wisata.
Iwan mengakui kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk berlibur. Ketika daya beli belum sepenuhnya pulih, sebagian orang cenderung lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran perjalanan.
"Bukan berarti mereka tidak ingin berwisata, tetapi mungkin akan mengubah pola perjalanan, memilih destinasi yang lebih terjangkau, mengurangi durasi liburan, atau memilih akomodasi dan transportasi yang lebih ekonomis," paparnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, perlu direspons pelaku industri pariwisata dengan menyediakan produk dan paket perjalanan yang lebih beragam. Pilihannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan, mulai dari kelas ekonomis hingga premium.
"Meskipun masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, Yogyakarta tetap menjadi salah satu destinasi pilihan untuk menghabiskan libur akhir tahun," lanjutnya.
Tiket Pesawat Domestik Ditargetkan Turun hingga 13 Persen
Sebelumnya, pemerintah menyiapkan stimulus berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk tiket penerbangan domestik kelas ekonomi selama periode libur akhir tahun.
Melalui kebijakan tersebut, harga tiket pesawat ditargetkan turun sekitar 11-13 persen. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp722 miliar untuk mendukung program diskon tiket selama periode Nataru.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Lukman F. Laisa, mengatakan masyarakat sudah dapat membeli tiket setelah regulasi pelaksanaan diterbitkan Kementerian Keuangan.
"Alhamdulillah PMK (Peraturan Menteri Keuangan) sudah keluar. Jadi pembelian tiket sudah bisa mulai sekarang dan untuk tiket perjalanan pada tanggal 22 Desember (2026) sampai dengan 10 Januari (2027)," ujar Lukman seperti dilaporkan Antara.
Dengan periode perjalanan tersebut, stimulus diharapkan membantu masyarakat merencanakan liburan akhir tahun. Bagi pelaku pariwisata DIY, kebijakan ini menjadi salah satu peluang untuk menarik kunjungan sekaligus mendorong aktivitas ekonomi selama masa libur panjang.