Gunungkidul Galakkan Gerakan Ketuk Pintu untuk Cegah Penyebaran TBC

David Kurniawan
David Kurniawan Senin, 03 April 2017 14:55 WIB
Gunungkidul Galakkan Gerakan Ketuk Pintu untuk Cegah Penyebaran TBC

Peserta Senam Minggu Sehat dalam rangka Peringatan Hari TBC se-Dunia saat melakukan foto bersama-sama di Alun-Alun Wonosari, Minggu (2/4/2017). (Foto istimewa)

Gunungkidul terus akan berupaya melakukan pencegahan penyebaran penyakit TBC

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus akan berupaya melakukan pencegahan penyebaran penyakit TBC. Hal ini disampaikan Bupati Gunungkidul Badingah dalam peringatan Hari TBC se-Dunia di Alun-Alun Wonosari, Minggu (2/4/2017).

Hingga saat ini diketahui terdapar 414 warga menderita TBC. Dari jumlah tersebut, 165 orang merupakan penderita baru. Badingah mengungkapkan, pemberantasan penyakit TBC bukan hanya menajadi tugas dari pemeritnah, melainkan warga harus ikut berpartisipasi aktif sehingga upaya yang dilakukan dapat maksimal.

“Kita akan terus berupaya untuk melakukan pencegahan. Namun saya berharap masyarakat juga ikut berperan aktif,” katanya, Minggu.

Menurut Badingah, untuk pencegahan, pemkab akan menggalakan sosialiasi. Salah satunya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya penyakit TBC dan upaya deteksi dini. “Deteksi dini ini sangat penting untuk pencegahan sehingga proses penyembuhan yang dilakukan jadi lebih mudah,” katanya lagi.

Ketua Persatuan Pemberantasan TBC Indonesia (PPTI) Gunungkidul Eko Subiyantoro mengungkapkan, untuk deteksi dini sudah dilakukan kerja sama dengan organisasi Aisiyah untuk melakukan gerakan ketuk pintu TBC. Kerja sama ini sudah berlansung selama satu bulan dan dilakukan serempak di seluruh DIY.

Untuk Gunungkidul, kata Eko, gerakan ketuk pintu menyasar ke 1.446 rumah dengan jumlah warga  yang diskrening TBC sebanyak 2.570 jiwa. Dari jumlah itu ditemukan terduga TBC sebanyak 108 jiwa, sementara untuk yang positif belum diketemukan. “Kita akan terus lakukan gerakan ketuk pintu karena upaya ini salah satu langkah efektif untuk pencegahan,” katanya.

Menurut dia, gerakan ketuk pintu ini memiliki banyak manfaat. Sebab, selain sebagai upaya deteksi dini TBC, kegiatan itu juga sebagai upaya memberikan motivasi kepada penderita agar bisa sembuh dengan jalan terus meminum obat secara rutin.

“Untuk itu, relawan juga akan memberikan pengarahan kepada pengawas minum obat [PMO] agar terus melakukan pengawasan sehingga upaya penyembuhan dapat lebih maksimal,” katanya.

Menurut dia, penyakit TBC masih dapat disembuhkan. Namun dengan catatan, penderita harus rutin berobat dan meminum setiap obat yang diberikan. “Itu harus karena jika ingin sembuh obat-obat itu harus diminum terus menerus. Untuk itu kenapa kita menekankan kepada PMO untuk terus melakukan pengawasan, sebab dengan minum obat merupakan satu-satunya jalan bisa sembuh,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online