Kekeringan Gunungkidul Meluas, 16 Kapanewon Sudah Terima Air Bersih
Krisis air bersih di Gunungkidul meluas. BPBD mencatat 16 kapanewon terdampak dan lebih dari 700 tangki air telah disalurkan.
Sejumlah siswa SMK Negeri 1 Tanjungsari mengevakuasi perabot dan arsip penting sekolah menggunakan perahu karet saat banjir merendam sekolah mereka di Desa Kemadang, Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (28/11/2017). (Harian Jogja/Desi Suryanto)
“Saya sukarela membantu sekolah agar dokumen yang dimiliki tidak rusak karena banjir"
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Banjir yang terjadi merata di wilayah Gunungkidul membuat SMK Negeri 1 Tanjungsari terendam banjir. Puluhan murid dan guru di SMK kelautan ini bahu membahu menyelamatkan arsip milik sekolah.
Hujan deras yang terjadi di wilayah Gunungkidul sejak Senin (27/11/2017) mengakibatkan musibah di sejumlah wilayah. Salah satunya terjadi di area sekolah SMK Negeri 1 Tanjungsari.
Sejak Selasa (28/11/2017) pagi, ketinggian air di sekolah itu terus meninggi. Kondisi ini terjadi karena letak geografis sekolah yang berada di dasar cekungan menbuat air dari berbagai penjuru menumpuk di kawasan tersebut.
Celakannya, keberadaan luweng sebagai saluran pembuangan yang berada di sisi selatan sekolah tersumbat. Kondisi ini pun berdampak terhadap ketinggian air di lokasi sekolah. Hujan yang terus turun membuat ketinggian air cepat naik sehingga lokasi sekolah kebajiran. Hingga Selasa sore, ketinggian air di sekolah itu mencapai tiga meter.
Kondisi ini pun berdampak terhadap aktivitas belajar mengajar di sekolah yang terpaksa ditutup. Sebagai gantinya, para guru beserta murid bahu membahu menyelamatkan dokumen arsip ke tempat yang lebih aman.
Proses penyelamatan ini diburu waktu karena hujan belum menunjukan tanda-tanda akan berhenti. Berbagai dokumen mulai dari buku-buku sekolah, arsip ijazah hingga dokumen lainnya dipindahkan ke rumah salah satu guru yang terletak di depan sekolah. Kebetulan lokasi rumah terletak di atas sehingga aman dari luapan banjir.
Proses penyelamatan sendiri dilakukan dengan cara manual dan menggunakan sebuah perahu karet yang dimiliki sekolah. Mereka pun bergegas memindahkan dokumen agar tidak menjadi korban banjir.
“Saya sukarela membantu sekolah agar dokumen yang dimiliki tidak rusak karena banjir,” kata Naufal Maurel Aulia Haswanda, salah seorang siswa SMK Negeri 1 Tanjungsari, Selasa kemarin.
Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Tanjungsari Sudiyarto mengatakan, kurang lebih ada sekitar 30 guru dan puluhan murid yang membantu evakuasi dokumen maupun arsip milik sekolah. Menurut dia, banyak dokumen yang harus diselamatkan mulai dari buku-buku hingga dokumen penting lainnya.
“Untuk perangkat elektronik tidak ada masalah karena sudah diletakkan di lokasi yang aman sehingga terhindar dari luapan banjir,” katanya.
Menurut dia, banjir di SMK Tanjungsari bukan yang bertama kali karena sudah sering menjadi langganan. Sebelum banjir kali ini, peristiwa terakhir terjadi di 2016 lalu. “Saat itu kerugian mencapai miliaran rupiah. Tapi untuk sekarang bisa dikurangi karena sudah melakukan berbagai antisipasi. Jadi untuk kerugian banjir kali ini lebih sedikit dari tahun yang lalu,” ujarnya.
Sudiyarto pun mengucapkan banyak terimakasih atas partisipasi para siswa yang ikut dalam proses evakuasi dokumen dan arsip yang dimiliki sekolah. “Untuk sementara sekolah kami liburkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Krisis air bersih di Gunungkidul meluas. BPBD mencatat 16 kapanewon terdampak dan lebih dari 700 tangki air telah disalurkan.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY terus menggaungkan semangat literasi melalui bedah buku Homepower
Pendapatan transfer Kulonprogo turun Rp114,66 miliar pada APBD Perubahan 2026. DPRD meminta Pemkab mengubah strategi fiskal.
Sejumlah investor menggugat Selena Gomez terkait startup kesehatan mental Wondermind. Mereka menuding ada penyesatan informasi bisnis dan menuntut pengembalian
Penyalahgunaan narkoba tidak hanya berdampak pada orang yang mengonsumsinya, tetapi juga dapat menyeret keluarga hingga lingkungan sekitar.
Polresta Cilacap mengungkap dugaan pencabulan dan persetubuhan terhadap anak dengan 24 korban selama 11 tahun. Polisi membuka posko pengaduan.