DAMPAK KEKERINGAN : Tak Mampu Beli Solar, Warga Prambanan Tak Dapat Air

30 September 2013 11:32 WIB Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Operasional jenset untuk sistem jaringan air bersih di Kecamatan Prambanan masih terkendala solar. Biaya solar yang terlalu tinggi membuat warga tidak mampu untuk membeli bahan bakar ini.

Ketua Organisasi Pengatur Air (OPA) Mujimin mengatakan keterbatasan stok solar membuat pengoperasian diesel generator (genset) tidak maksimal. Seminggu hanya dua kali operasi.

Padahal idealnya untuk memenuhi kebutuhan air bersih semua warga, genset harus beroperasi minimal enam kali seminggu.

“Tanpa solar maka kebutuhan air di Prambanan sulit dipenuhi. Pasalnya ada beberapa warga yang mengaku tidak kuat membayar terpaksanya solar untuk jenset jadi tidak ada,” kata Mujimin di Kecamatan Prambanan, akhir pekan lalu.

Mujimin merinci kebutuhan solar untuk genset di sumur induk sedikitnya delapan liter per jam. Lama operasional genset antara enam sampai delapan jam per hari. Reservoar I dan II masing-masing rata-rata menghabiskan tujuh liter solar per jam.

Mujimin menambahkan setiap kali operasi (enam jam) dibutuhkan sedikitnya 132 liter solar. Artinya butuh dana sedikitnya Rp726.000 setiap kali akan mengoperasikan jaringan air bersih ini. Rata-rata debit air yang dihasilkan mencapai 11 liter per detik.

“Itu baru estimasi untuk satu sistem per sekali operasi saja. Kalau enam kali dalam seminggu tentu sangat memberatkan bagi warga di sana,” tegas Mujimin yang mengaku pembelian solar tidak terpenuhi lantaran belum semua warga sadar dan bersedia membayar iuran.

Mujimin optimistis jika iuran bisa rutin, masalah kebutuhan air bisa teratasi. Namun hingga kemarin ada saja warga yang belum membayar iuran.

Sistem kerja jaringan air bersih ini dengan cara genset induk mengambil air bersih dari sumur bor dan dialirkan ke reservoar I. Dari reservoar I akan dialirkan lagi ke reservoar II. Setelah di reservoar II baru nantinya bisa dialirkan ke ruamh-rumah warga.