Pertapaan Pandan Payung Tak akan Dipugar

10 Februari 2014 14:19 WIB Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL – Pemerintah Desa Poncosari Kecamatan Srandakan berjanji tidak akan merubah tempat pertapaan Pandan Payung di Pantai Pandansimo untuk perluasan tambak udang. Tempat ritual budaya itu masih ingin dilestarikan warga masyarakat.

Kepala Desa Poncosari Supriyanto mengatakan rencana menambah lokasi tambak udang tidak akan merusak tempat pertapaan. Pembanguan tambak hanya di sekitar Pandan Payung yang masih tersisa satu petak tanah.

"Hanya sebelahnya saja yang mungkin akan dimanfaatkan untuk penambahan kolam tambak udang. Pandan Payung sepertinya masih aman," kata Supriyanto kepada Harianjogja, akhir pekan lalu.

Kades mengaku lokasi Pandan Payung selama ini belum belum diketahui pasti titik terang sejarahnya sampai kini menjadi tempat masyarakat bertapa dan laku spirtual. "Tapi kami tetap hormati pendapat dan keberatan warga kalau tempat itu dibongkar," tambahnya.

Pernyataan Kades Poncosari tersebut sekaligus menjawab keresahan warga Dusun Ngentak akhir-akhir ini. Mereka dibuat resah adanya kabar rencana pemugaran tempat ziarah dan pertapaan yang ada di kawasan tersebut. Warga keberatan pemerintah desa melalui perangkatnya bersikeras akan membongkar tempat yang masih digunakan bertapa pada hari-hari tertentu.

Melalui juru bicara, Jono, warga Ngentak meminta pihak desa justu dapat melindungi tempat-tempat dinilai bersejarah yang masih dilestarikan masyarakat. Jono mengatakan tempat pertapaan berada di komplek tambak udang Pantai Pandansimo selama ini terkesan kumuh karena kurang mendapatkan perawatan.

Meskipun bangunan dan halamannya nampak kotor, tempat diyakini pernah menjadi tempat bertapa Sultan HB VII ini masih digunakan masyarakat tertentu baik warga Bantul atau dari luar daerah untuk menggelar ritual budaya.

Dukuh Ngentak Dwi Antoro membenarkan keberatan banyak warga mendengar rencana pemugaran Pandan Payung. Dwi menambahkan Pandan Payung di tanah Sultan Grond tersebut sudah bertahun-tahun lamanya dimanfaatkan warga untuk sumber kehidupan seperti pertanian sesepuh dusun bernama Mbah Badi sekaligus bertugas sebagai juru kunci.