HARGA KEBUTUHAN POKOK : Tergantung Stok dan Permintaan

Ilustrasi kebutuhan pokok (Dok - JIBI)
19 Januari 2015 18:40 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harga kebutuhan pokok belum juga turun. Adapun harga BBM terus menurun.

Harianjogja.com, JOGJA- Turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per Senin (19/1/2015) tidak langsung berdampak pada turunnya harga kebutuhan pokok masyarakat. Harga sejumlah komoditas bisa turun jika pasokan dan permintaan stabil.

Dari pantauan Harianjogja.com, Minggu (18/1/2015) atau sehari sebelum penerapan harga baru bahan bakar minyak (BBM), harga sejumlah komoditas belum beranjak turun. Padahal, pemerintah telah menurunkan harga BBM sejak 1 Januari lalu. Faktor tersebut, menurut sejumlah pedagang, disebabkan oleh faktor stabil tingginya permintaan. Selain itu, kendala cuaca musim hujan ini dinilai juga memengaruhi pasokan.

Di pasar tradisional Kranggan Jogja misalnya, harga beras masih stabil tinggi diangka Rp9.500-Rp10.000 per kg. Padahal selain operasi pasar beras, pemerintah juga telah melakukan pendistribusian beras bagi masyarakat miskin (raskin).

"Ya harga beras masih tetap, nggak turun. Mungkin turun kalau mendekati panen akhir Februari nanti," ujar Sunyoto salah seorang pedagang beras di pasar tersebut.

Disinggung soal penurunan harga BBM apakah mampu menurunkan harga beras, dia belum bisa memastikan. Pasalnya, masalah kenaikan harga beras terkait juga dengan ketersediaan barang.

"Memang ongkos transportasi ada pengaruhnya. Tetapi, kalau stoknya menipis hal itu juga berpengaruh pada kenaikan barang. Saat ini masih musim tanam dan belum panen," jelasnya.

Sekadar diketahui, sejak awal Desember lalu harga beras stabil tinggi berkisar antara Rp8.500 hingga Rp10.000 perkilo. Beras jenis mentik super dipatok Rp10.000 per kilo, mentik biasa Rp9.800 dan IR super Rp 9.500 per kg. Sementara, stok beras di Bulog DIY tersisa sekitar 9.000 ton atau mencukupi kebutuhan masyarakat DIY hingga Maret mendatang. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring musim panen Maret nanti.

Menurut sejumlah pedagang, meskipun harga BBM turun namun selama permintaan barang tinggi dan stok tidak terganggu harga komoditas
bisa stabil tinggi.

"Harga BBM jadi salah satu komponen saja, tidak terlalu berpengaruh pada harga kebutuhan di pasaran kecuali ada campur tangan pemerintah. Misalnya menggelar OP untuk menurunkan harga. Biasanya, kalau stok atau barang melimpah harga juga turun," ujarnya.

Selain beras, harga daging ayam broiler juga stabil tinggi antara Rp31.000 hingga Rp32.000 per kilo sementara harga ayam kampung berkisar Rp65.000 per kg. Adapun harga telur juga tetap tinggi dikisaran Rp21.500 hingga Rp22.000 per kg. Tingginya harga komoditas tersebut, salah satunya disebabkan kenaikan harga pakan ayam. Harga ayam hidup saja dari tangan peternak dipatok antara Rp17.500 hingga Rp18.000 per ekor.

"Kondisi tersebut menyebabkan harga daging dan telur ayam di pasaran naik. Bagaimana kalau harga BBM turun? Kami masih belum bisa memastikan. Sebab, harga pakan masih impor sehingga erat kaitannya dengan masalah harga rupiah terhadap dollar," kata Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo.

Harga komoditas daging sapi hampir tak beranjak. Sejak sebelum kenaikan harga BBM hingga pemerintah menurunkan harga BBM awal tahun lalu, harga daging sapi dipatok antara Rp100.000 per kg hingga Rp110.000 per kg. Menurut Supriati, pedagang daging sapi di Kranggan, harga daging sapi tersebut tidak terpengaruh oleh musim liburan maupun naik turunnya harga BBM.

"Mudah-mudahan kalau harga BBM turun, permintaan daging sapi juga naik," harapnya.

GRAFIK
Harga Sembako Minggu (18/1/2015)

Beras: Rp9.500-Rp10.000 perkg
Gula: Rp10.000 per kg
Minyak Goreng: Rp11.000 per liter
Daging Sapi: Rp105.000 perkg
Daging Ayam: Rp32.000 perkg
Telur Ayam: Rp21.000 perkg

Sumber Pasar Kranggan