KURS RUPIAH : Kedelai Impor Mahal, Perajin Tahu Pilih Produk Lokal

Ilustrasi pertanian kedelai. (Wahyu Darmawan/JIBI - Bisnis)
17 Maret 2015 21:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Kurs rupiah yang terus melemah mendorong perajin tahu memilih kedelai lokal.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Nilai tukar rupiah yang terus melemah menimbulkan kekhawatiran akan berdampak terhadap harga jual kedelai impor di pasaran. Namun demikian, untuk menyiasatinya, perajin tahu di Gunungkidul memilih menggunakan kedelai lokal.

Salah seorang perajin tahu di Desa Siraman, Wonosari Prastowo mengakui memilih menggunakan kedelai lokal. Hal ini dilakukan, sebagai antisipasi kenaikan harga kedelai impor seiring tingginya nilai tukar dolar.

“Biasanya saat dolar naik, akan berpengaruh terhadap harga jual kedelai, khususnya yang didatangkan dari luar negeri. Memang saat ini belum ada tanda-tanda akan naik, namun lebih mengantisipasi sejak awal, sehingga dampaknya tidak terasa,” kata Prastowo kepada wartawan, Senin (16/3/2015).

Dia mengakui, kualitas kedelai impor memiliki kualitas lebih baik. Dari sisi ukuran, kedelai impor lebih besar. Akibatnya harganya pun juga berbeda. Kedelai lokal dipasarkan Rp7.200, sementara untuk yang impor dijual Rp7.400 per kilogram.

“Kalau disuruh memilih, saya memilih yang jenis impor, karena tahu yang dihasilkan akan lebih banyak. Tapi mau bagaimana lagi dan untuk antisipasi, kami memilih menggunakan yang lokal,” ungkapnya.

Sementara itu, perajin tahu lainnya Hari mengaku tidak khawatir dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah. Dia percaya, kondisi itu belum akan memberikan dampak terhadap harga kedelai.

“Kemungkinan naiknya harga tetap ada, tapi kemungkinan tidak terjadi dalam waktu dekat,” kata Hari.

Keyakinan Hari bahwa harga kedelai tidak akan naik dikarenakan, saat ini sudah mulai memasuki masa panen. Otomatis hal ini akan berdampak terhadap pasokan bahan baku tahu di pasaran.

Dia pun berharap, apabila harga kedelai harus dinaikan, nilainya tidak lebih dari Rp8.000 per kilogram. Menurut Hari, harga ini masih bisa ditoleransi, sehingga dampaknya tidak akan begitu terasa, sebab para perajin masih bisa mendapatkan untung.

“Kalau bisa jangan sampai naik, dan mudah-mudahan nilai tukar rupiah bisa menguat lagi,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi adanya kenaikan harga bahan baku, Hari mengaku siap membuat beberapa pilihan yang diambil saat kenaikan tersebut tak dapat dihindarkan. Antisipasi tersebut antara lain dengan memperkecil ukuran tahu, atau menaikan harga jualnya.

“Ya kalau harga kedelai tetap, kami juga tidak akan melakukan perubahan. Tapi kalau terpaksa naik, kami bisa ikut menaikan atau memperkecil ukuran tahu,” katanya lagi.