Padi di Sleman Diserang Neck Blast, Apa Itu?

23 Maret 2015 02:20 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Tanaman padi di sejumlah daerah di Sleman diserang Neck Blast
Harianjogja.com, SLEMAN-Meski bukan hama wereng, petani di Dusun Karongan, Jogotirto, Berbah, Sleman juga mengeluhkan adanya penyakit yang menyerang sebagian tanaman padi saat memasuki masa panen.

Meski demikian, akibat yang ditimbulkan masih dinilai tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil panen.

“Namanya neck blast. Itu karena pengaruh hujan yang turun di siang hari. Di sini pakai urea jadi tidak begitu banyak. Neck blast di padi organik malah lebih banyak,” ungkap Siswanto, Ketua Kelompok Tani Sedyo Maju di Dusun Karongan, Minggu (22/3/2015).

Sebenarnya, penyakit neck blast sudah diantisipasi dengan penggunaan pupuk yang seimbang. Jarak tanamnya pun sudah diatur agar tidak terlalu berdekatan.

“Fungsinya supaya tidak lembab. Dengan pola tanam jajar legowo atau tajarwo, akan ada udara yang masuk. Itu akan mengurangi kemungkinan munculnya neck blast,” papar Siswanto.

Meski demikian, faktor cuaca tetap berada di luar kendali petani. “Dari bawah itu tanamannya utuh, tapi sampai atas jadi coklat dan kering. Kalau padinya sudah tua memang tidak apa-apa. Kalau masih muda, yang bisa jadi kosong dan mengurangi jumlah bulir padinya,” kata Siswanto.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Widi Sutikno mengatakan, penyakit neck blast memang wajar dialami tanaman padi pada musim hujan.

"Kondisi hujan begini memang berpengaruh. Bagian yang terserang itu bagian leher malainya," ucap Widi, saat dihubungi pada Minggu sore.

Neck blast juga dikenal dengan penyakit potong leher. Namun, menurut Widi, penyakit itu tidak terlalu mengancam persentase hasil panen. "Jumlah padi atau wilayah yang terserang juga tidak banyak," katanya menambahkan.