KONSERVASI HEWAN : Warga Selamatkan 8.000 Penyu

Ilustrasi keindahan bawah permukaan laut (JIBI/Solopos - Dok.)
17 Mei 2015 15:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Konservasi hewan, Pantai Goa Cemara merupakan salah satu pantai yang paling banyak ditemukan telur penyu di sepanjang pesisir, karena hewan ini menyukai pantai yang tidak terlalu panas tapi ada pepohonan

Harianjogja.com, BANTUL—Kelompok warga di Dusun Patehan, Desa Gadingsari, Sanden Bantul telah menyelamatkan lebih dari 8.000 ekor penyu selama hampir enam tahun terakhir.

Kelompok warga yang dinamai Mino Raharjo yang beroperasi di area Pantai Goa Cemara itu sejak 2009 berinisiatif melakukan konservasi penyu setelah undang-undang (UU) menyatakan satwa langka itu wajib dilindungi. Fasilitator konservasi penyu di Dusun Patehan, Gadingsari, Sanden Bantul Feri Munandar mengungkapkan, sejak 2010 saat kelompok Mino Raharjo terbentuk, warga membuat aturan tidak tertulis.

Aturannya, melarang menjual atau mengonsumsi telur penyu yang mereka temukan di pesisir Pantai Goa Cemara. Meski sejatinya, upaya penyelamatan telur penyu sudah dirintis sejak 2009.

"Di Pantai Goa Cemara merupakan salah satu pantai yang paling banyak ditemukan telur penyu di sepanjang pesisir, karena hewan ini menyukai pantai yang tidak terlalu panas tapi ada pepohonan," ungkap Feri saat menerima kunjungan karyawan Harianjogja.com ke tempat penangkaran penyu di Pantai Goa Cemara, Sabtu (17/5/2015).

Semenjak itu, setiap telur penyu yang ditemukan di bibir pantai akan dibawa ke area penangkaran penyu di sebelah utara pantai, berjarak tidak sampai satu kilometer. Di tempat penangkaran ini, telur penyu ditimbun di dalam pasir. Bila permukaan pasir tempat telur penyu disimpan tampak turun, artinya telur sudah menetas.

Dalam waktu 50-55 hari, anak penyu atau biasa disebut tukik akan merangkak naik ke permukaan. Anggota kelompok akan membantu menggali pasir untuk membantu tukik merangkak naik. Setelah itu, anak penyu diletakan ke dalam bak berisi air asin sebagai latihan bertahan hidup sebelum dilepas ke pantai.

"Biasanya tidak sampai satu minggu di bak, lalu dilepaskan ke pantai sekitar Juli-Oktober," ujar dia lagi.

Dalam setahun, lebih dari 1.000 ekor penyu telah dilepas warga ke laut. Selama 2009 hingga saat ini tercatat sudah ada 8.000 ekor penyu yang diselamatkan kelompok Mino Raharjo. Padahal, lanjut dia, hanya 80% dari total telur penyu yang menetas dan bertahan hidup.

"Sisanya 20% tidak bisa hidup karena kualitas telur biasanya buruk," lanjutnya.

Upaya konservasi penyu itu menurut Feri tidak hanya sekadar menaati undang-undang tentang satwa langka. Lebih dari itu, penyu dianggap sebagai hewan predator yang bermanfaat bagi lingkungan. Keberadaan penyu mampu memangsa hewan ubur-ubur yang biasanya menyengat para wisatawan yang bermain di bibir pantai.

Feri menambahkan, selain menjadi tempat penangkaran penyu, area tersebut juga menjadi objek wisata yang menyatu dengan Pantai Goa Cemara yang beberapa tahun terakhir terus mengalami peningkatan kunjungan. Misalnya pada libur nasional Sabtu (17/5), ribuan orang berkunjung ke pantai ini.

"Sejak libur Kamis, pantai ini sudah ramai dikunjungi, tidak hanya warga Jogja tapi banyak dari Jawa Tengah," kata Ramin, salah seorang pengelola parkir pantai Goa Cemara.