KELANGKAAN GAS : Salah Sasaran, Operasi Pasar Gas Elpiji Malah Jadi Incaran Pengecer

Warga antre membeli elpiji tabung 3 kg saat operasi pasar (OP) di Balai Desa Ngringo, Karanganyar, Selasa (12/5/2015). Operasi pasar tersebut digelar pemerintah daerah bersama Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) untuk mengatasi kelangkaan dan mengontrol harga elpiji kemasan tabung ini 3 kg. Setiap warga dalam operasi pasar itu bisa membeli elpiji 3 kg dengan harga Rp15.500/tabung. Meski demikian, setiap warga hanya diperbolehkan membeli sebanyak-banyaknya dua tabung. (Reza Fitriyanto/JIBI - Solo
30 Mei 2015 16:21 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Kelangkaan gas elpiji di Kulonprogo ditindaklanjuti dengan operasi pasar, namun pelaksanaannya salah sasaran karena malah menjadi incaran pengecer gas elpiji

Harianjogja.com, KULONPROGO-Operasi pasar elpiji tiga kilogram (kg) yang digelar di Pasar Percontohan Sentolo kurang tepat sasaran. Ratusan tabung gas yang dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) di tingkat pangkalan sebesar Rp15.500 tersebut justru jadi incaran pengecer dan bukan mereka dari kalangan tidak mampu.

Wahyu, pengecer gas asal Dusun Sentolo Lor, Desa Sentolo mengaku mengetahui adanya operasi pasar dari tetangganya. Dia lalu segera menuju Pasar Percontohan Sentolo untuk ikut mengantre. “Tinggal menunjukkan KTP tapi maksimal cuma boleh dua tabung,” katanya, Jumat (29/5/2015).

Menurut Wahyu, operasi pasar elpiji tiga kg cukup menguntungkan dirinya. Sebab, pasokan dari pangkalan memang berkurang. Jika biasanya dia mendapat jatah 15 tabung yang dikirim tiga kali seminggu, saat ini hanya 10 tabung.

Pangkalan bahkan ada yang menjual seharga Rp17.000 per tabung, sehingga harga yang harus dibayar konsumen Wahyu menjadi Rp19.000 per tabung. “Iya, ini nanti buat diecer,” ucapnya.

Berbeda dengan Wahyu, Jumiyem mengatakan tidak akan menjual kembali elpiji tiga kg yang dia dapatkan dari operasi pasar. Namun, dia sendiri sudah punya dua tabung elpiji tiga kg yang masih terisi di rumah. Aji mumpung, dia tetap tidak ingin melewatkan kesempatan mendapatkan harga murah.

“Saya kantornya dekat sini. Jadi ini [tabung gas] dibawa sekalian untuk menghemat. Bisa untuk persediaan juga,” ujar Jumiyem.

Ibu rumah tangga yang juga mengaku bekerja sebagai PNS itu merasa senang karena mendapat gas dengan harga lebih murah dari eceran yang bisa mencapai Rp17.000 hingga Rp19.000 per tabung.

“Saya ibu rumah tangga yang nyambi PNS,” ungkap warga Dusun Bantarejo, Desa Banguncipto, Sentolo itu.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Energi Sumber Daya Manusia (PerindagESDM) Kabupaten Kulonprogo, Niken Probo Laras mengatakan, sasaran operasi pasar elpiji tiga kg semestinya adalah konsumen langsung, bukan pengecer.

“Ini untuk masyarakat kurang mampu karena bersubsidi. PNS tentunya tidak termasuk [sasaran],” ujar Niken saat meninjau operasi pasar elpiji tiga kg di Pasar Percontohan Sentolo, Jumat siang.

Niken mengaku belum mengetahui secara detail  mengenai kurang tepatnya sasaran operasi pasar elpiji tiga kg. “Tadi yang mengawasi dari Pertamina, saya tidak tahu. Nanti kami adakan evaluasi bersama,” ungkapnya kemudian.

Niken lalu memaparkan, operasi pasar elpiji tiga kg dilakukan di empat wilayah kecamatan. Selain Pasar Percontohan Sentolo, kegiatan serupa juga ada di halaman kantor Kecamatan Wates, Galur, dan Nanggulan. Masing-masing titik menyediakan 560 tabung elpiji tiga kg.

“Tujuan utamanya menstabilkan harga, sesuai aturan gubernur mengenai HET di pangkalan sebesar Rp15.500,” terang Niken.