KEKERINGAN DI GUNUNGKIDUL : Kekeringan Tahun Ini akan Tertangani dengan Baik

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun menyalurkan air bersih dengan truk tangki ke warga Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (28/2/2015). Air bantuan itu langsung disalurkan ke tempat-tempat penampungan air milik warga. Bencana banjir yang melanda kawasan itu, Kamis (19/2 - 2015), merusak jaringan air bersih dan mengakibatkan sebagian wilayah mengalami kelangkaan air bersih. Demi menanggulanginya kelangkaan air akibat banjir Madiun itu, pemkab setempat bersama instansi
29 Juli 2015 23:20 WIB Uli Febriarni Gunungkidul Share :

Kekeringan di Gunungkidul tahun ini akan tertangani dengan baik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Gunungkidul optimis kekeringan di Gunungkidul dapat tertangani.

Terlebih Pemkab mengetahui bahwa sejumlah kecamatan sudah memiliki sumber air sendiri, sehingga upaya dropping air tidak melulu diselenggarakan oleh Pemkab.

Kepala Bidang Sosial Dinsosnakertrans Kabupaten Gunungkidul, Suyatmiyatun pada Selasa (28/7/2015) mengatakan pada 2015, pihaknya memiliki anggaran dropping air ke sejumlah daerah di Gunungkidul sebanyak Rp590 juta.

Meski demikian, sejumlah anggaran juga akan dianggarkan kembali lewat pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan 2015.

Sementara ini, ada 300 tangki air yang bisa didrop oleh Pemkab lewat Tagana Kabupaten Gunungkidul pada Agustus 2015 mendatang, bersumber dari Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta.

Atun, begitu ia kerap disapa, optimis sejumlah tangki akan diberikan ke Pemkab secara berkelanjutan, tertama apabila kondisi wilayah Gunungkidul 'sangat kering'.

Sejauh ini, dropping air telah dilakukan ke sejumlah kecamatan seperti Girisubo, Rongkop, Tepus, Panggang, Nglipar. Untuk Ngawen, Gedangsari, Tanjungsari, Saptosari, Semin, pihaknya mengklaim terjadi pengurangan jumlah permintaan terhadap air.

Desa-desa di kecamatan tadi, sudah memiliki tangki dan sumber air sendiri. Sehingga Pemkab hanya melakukan dropping air ketika desa-desa tersebut ketika dirasa mendesak.

"Tepus dan Ponjong sudah punya tangki, namun apabila dirasa memang dibutuhkan dropping air, kami membackup saja, namun untuk Playen dan Nglipar belum ada tangki. Kami juga kurang tahu, untuk kecamatan yang sudah memiliki sumber air sendiri itu, apakah sumber air mereka dari Perusahaan Daerah Air Minum atau apa, yang jelas setiap rapat koordinasi, mereka menyebut masalah air tertangani," ungkapnya.

Atun menyebut, jumlah anggaran dropping air, dibanding 2014 yang berjumlah Rp800 juta, anggaran pada 2015 ini memang terhitung mengalami penurunan.

Namun pihaknya mengaku optimis jumlah anggaran maupun tangki yang ada dalam pos kedaruratan Dinsosnakertrans cukup mengatasi kekeringan di Gunungkidul, karena pihak ketiga seperti Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta, dan pihak lainnya biasanya tetap membantu Pemkab.

Di samping itu ia menerangkan, jumlah tangki yang ada dalam anggaran untuk didropping sebanyak 3.520 tangki, sama seperti jumlah tangki yang didrop pada 2014 yang juga berjumlah 3.520 tangki.

Masalah kekeringan ini menurutnya, hal yang sejak dulu biasa terjadi Gunungkidul, selain faktor geografis, kekeringan dinilai hal yang sudah rutin dialami masyarakat Gunungkidul.

"Air yang kami drop adalah untuk warga miskin, kalau warga mampu, silakan beli air sendiri," paparnya.