Mahasiswa UGM Rancang Aplikasi "Pasienia" untuk Berbagi Informasi Sesama Pasien

Rusmawati Harya Megasari menunjukkan aplikasi Pasienia saat Jumpa Pers di Ruang Fortakgama UGM, Senin (1/2 - 2016). (Istimewa)
02 Februari 2016 10:21 WIB Jogja Share :

Mahasiswa UGM merancang aplikasi "Pasienia" untuk berbagi informasi sesama pasien

Harianjogja.com, SLEMAN – Perkembangan dunia teknologi informasi memang harus dimanfaatkan dengan bijak. Terlebih sosial media, harus bisa menciptakan ruang untuk saling berbagi meski sedang sakit. Empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan sebuah aplikasi bernama “Pasienia”.

Melalui aplikasi ini, pasien dapat terhubung dengan pasien ataupun keluarga pasien lainnya untuk berbagi pengetahuan dan informasi tentang penyakit yang tengah diderita.

CEO “Pasienia”, Fadli Wilihandarwo mengatakan awal ide membuat aplikasi ini berawal dari pengalaman mendampingi kenalannya yang menderita kanker paru-paru. Dia mendampingi selama setahun, yakni antara 2013 hingga 2014.

"Saya melihat ada interaksi yang bagus antara teman saya ini dengan pasien lain saat akan melakukan terapi. Mereka saling bercerita pengalaman masing-masing dan saling menguatkan,” kata pria kelahiran Tarakan, Kalimantan Utara 13 Februari 1988 silam seperti dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Senin (1/2/2016).

Fadli menambahkan aplikasi ini akhirnya tidak hanya berisi tentang pertemuan antara pasien untuk saling menguatkan. Bahkan para pasien saling berbagi tips dalam perawatan penyakit, seperti bagaimana mengatasi rasa mual yang timbul dari terapi yang dilakukan.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran ini tidak sendiri dalam mengembangkan aplikasi “Pasienia” yang berbasis android. Pada Maret 2015 lalu dia mengajak Haidar Ali Ismail (Jurusan Ilmu Komputer FMIPA) serta Dimas Ragil Mumpuni dan Rusmawati Harya Megasari (Jurusan Manajemen FEB). Baru membuka user, pada Mei 2015 sudah ada 500 pasien yang telah melakukan input data.

“Aplikasi ini sudah bisa diunduh melalui web Pasienia.com atau di Google Play Store. Namun untuk sementara waktu, aplikasi ini baru menyediakan pilihan menu untuk ngobrol dengan sesama pasien dalam lima kelompok penyakit, yaitu kanker, diabetes, jantung, rubella, dan lupus,” kata Fadli.

Aplikasi “Pasienia” sudah memiliki tiga dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang bergabung secara sukarela. Ke depan mereka berharap akan ada lebih banyak dokter ahli yang mau bergabung dalam “Pasienia”.

“Kami juga menjajaki kerjasama dengan sejumlah laboratorium pemeriksaan kesehatan di Jogja. Harapannya laboratorium pemeriksaan ini dapat membantu pasien dalam melakukan pemeriksaan penunjang termasuk memberikan potongan harga saat pemeriksaan,” jelas Fadli.

Haidar Ali Ismail menambahkan telah memiliki rencana untuk menggandeng biro perjalanan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Harapannya layanan “Pasienia” bisa menjadi tempat dimulainya medical tourism.

“Kami ingin membuat medical tourism seperti di Singapura dan Malaysia. Jadi pasien selepas menjalani pemeriksaan di rumah sakit bisa jalan-jalan di sejumlah obyek wisata di Yogyakarta,” katanya.

Aplikasi “Pasienia” ini baru dikembangkan untuk smartphone berbasis android. Namun nantinya akan dikembangkan juga dalam versi iOS dan web. Harapannya melalui aplikasi ini semakin banyak pasien yang terbantu dan mendukung proses penyembuhan mereka.

Aplikasi ini pernah pernah berhasil meraih juara pertama dalam tiga kejuaraan bergengsi, yaitu Start Surabaya Bootcamp, Indonesia Developer Summit, dan Forum Informasi Kedokteran Indonesia. Selain itu aplikasi ini berhasil masuk menjadi peserta eksebisi dalam acara Google Hackfair 2015 di Jakarta dan mendapat kesempatan untuk presentasi secara personal di depan Jason Titus, VP Engineering Google dari Mountain View, California.