KASUS DBD GUNUNGKIDUL : Kasus DBD Naik Dua Kali Lipat

Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung memberlakukan status Siaga I Demam Berdarah menyusul meninggal dunianya seorang pasien anak penderita demam berarah dengue (DBD) dan meningkatnya jumlah penderita akibat penyakit tersebut. Alkibat endemi DBD Tulungagung itu, pasien yang menjalani perawatan akibat penyakit itu di ruang Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (15/1/2016), membanjir. (JIBI/Solopos/Antara - Destyan Sujarwoko)
03 Februari 2016 11:21 WIB Uli Febriarni Gunungkidul Share :

Kasus DBD Gunungkidul naik dua kali lipat

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul, Agus Prihastoro mengatakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Januari 2016 di Kabupaten Gunungkidul berjumlah 71 kasus. Angka ini mengalami kenaikan dua kali lipat dibanding Desember 2015, yang hanya berjumlah 24 kasus.

Sementara itu ada tujuh kecamatan dengan jumlah kasus DBD lebih tinggi dibanding kecamatan lainnya, beberapa di antaranya Kecamatan Wonosari, Playen, Karangmojo, Saptosari, Tepus, Nglipar. Dan Kecamatan Wonosari dinyatakan sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.

"Tidak haPal jumlahnya [kasus di Wonosari], namun sampai sekarang masih belum ada yang sampai meninggal dunia, kita berdoa jangan ada," ungkapnya, Selasa (2/2/2016).

Agus menambahkan Dinkes terus melakukan upaya pencegahan dengan pemberantasan sarang nyamuk serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai pola hidup bersih dan budaya hidup sehat.

Ia meminta kepada masyarakat untuk menerapkan kebiasaan hidup 3 M (menguras penampungan air, mengubur barang bekas, menutup penampungan air) dan menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi, serta cukup istirahat, agar imunitas tubuh tetap terjaga.

"Bagi masyarakat yang membutuhkan abate, bisa langsung meminta Pusat Kesehatan Masyarakat atau Dinkes," lanjutnya.