PERTANIAN KULONPROGO : Pengangguran Terbuka Naik, Cuaca & Kurs Ikut Andil

Ilustrasi petani Tulungagung membajak sawah. (JIBI/Solopos/Antara - Destyan Sujarwoko)
10 Februari 2016 09:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Pertanian Kulonprogo mempengaruhi angka partisipasi kerja.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran terbuka (TPT) Kabupaten Kulonprogo tahun 2015 mencapai 3,72%. Angka tersebut diketahui meningkat dibanding 2014 yang tercatat 2,88 persen.

Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) membenarkan jika sektor pertanian berpengaruh besar terhadap peningkatan jumlah pengangguran.

Hal itu karena setidaknya berdasarkan data 2014 lalu, sektor pertanian menjadi sumber penghasilan bagi 129.957 orang atau sekitar 58,19% dari penduduk yang bekerja di Kulonprogo.

“Faktor cuaca dan musim kemarau yang panjang membuat petani sedang tidak ada pekerjaan saat dilakukan survei sehingga mereka dianggap menganggur,” ungkap Heri, Selasa (9/2/2016).

Heri lalu mengatakan, situasi perekomian global yang memburuk serta melemahnya nilai tukar rupiah membuat perusahaan-perusahaan berskala nasional mencoba bertahan dengan menekan ongkos produksi. Salah satunya melalui kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK). Meski hal itu tidak terjadi di Kulonprogo, Heri yakin ada warga Kulonprogo yang kena PHK oleh perusahan di luar daerah.

Menurut Heri, penguatan jaringan kerja sama dengan perusahaan lokal dan nasional maupun negara asing masih perlu ditingkatkan. Pelayanan penempatan tenaga kerja pun diakui belum optimal. Dia lalu mengaku merasa kesulitan memfasilitasi pencari kerja yang berusia 30 tahun ke atas. Hal itu karena perusahaan umumnya mencari tenaga kerja yang lebih muda atau dari kalangan lulusan baru.

“Rata-rata mereka sudah lepas dari pekerjaan sebelumnya lalu susah dapat pekerjaan baru. Kami belum punya akses agar mereka mudah mendapatkan pekerjaan yang diharapkan sehingga tidak terdata [sebagai pengangguran] terus,” ucap Heri.