PEKAN BUDAYA TIONGHOA YOGYAKARTA : Cerita Murdijati saat Menggagas Acara PBTY

Murdijati Gardjito dan asistennya Galih Putri saat menceritakan awal mula PBTY. (Ujang Hasanudin/JIBI - Harian Jogja)
18 Februari 2016 12:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Pekan budaya Tionghoa Yogyakarta dahulu digagas oleh Murdijati, seperti apa kisahnya?

Harianjogja.com, JOGJA- Perayaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang digelar setiap tahun sejak 2006 silam tidak lepas dari peran Murdijati Gardjito.

Ia bukan keturunan Tionghoa, namun berkat Murdijati, warga Tionghoa di Jogja kini punya momen untuk mengekspresikan budaya dan keseniannya kepada masyarakat luas.

Mei 2005 Murdijati mulai mendatangi sejumlah komunitas Tionghoa di Jogja dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Namun apa yang dilakukan perempuan kelahiran 1942 saat itu hanya untuk proyek pribadinya.

Ia tengah menyusun riset tentang resep masakan khas Tionghoa termasuk budaya makan masyarakat Tionghoa-Jogja. Apa yang dilakukannya merupakan hobi sekaligus tanggung jawab akademisnya. Ia merupakan pakar pangan lokal dan ketahanan pangan di Fakutas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

Sudah puluhan buku yang ditulisnya soal ketahanan pangan lokal, dan makanan tradisional. Dari kegigihannya itu, ia pun diangkat menjadi ketua pusat kajian makanan tradisional UGM. Berbagai penghargaan sudah ia peroleh baik dari pemerintah daerah mau pun dari kementrian.

Hingga kini, ia masih menulis buku. Demikian kisah yang diungkapkan oleh Murdijati, saat ditemui di rumahnya di Jalan Kemetiran Kidul, Gedong Tengen, Rabu (17/2/2016) pagi.

Ibu dari tiga anak dan empat cucu ini saat ini sehari-harinya di rumah.  Usianya yang sudah tidak muda lagi dan penglihatannya kurang jelas membuatnya harus memiliki dua asisten di rumahnya.

Asisten itu yang kemudian membantu semua keperluan Murdjati, termasuk saat dirinya harus membuka dokumen tentang awal mulai diadakannya PBTY. “Kalau cerita saya masih bisa, tapi kalau soal data-data saya harus minta bantuan asisten,” ucapnya.

Murdijati pun memukul kentongan kecil yang terbuat dari kayu yang membentuk kodok, saat diketuk bunyinya sangat nyaring. Dua kali ketokan, asistennya pun datang.

Kentongan kecil itu dimaksudkan supaya dirinya tidak harus teriak-teriak saat membutuhkan bantuan, selain itu rumahnya pun terbilang luas, menyatu dengan halaman kantor organisasi pembatik “Sekar Jagat”.

Putri-demikian Murdijati memanggil asistennya itu, membuka lembar-demi lembar buku yang berisi dokumen acara PBTY yang digelar pertama kali pada Februari 2006 lalu. apa yang diceritakan Murdijati kemudian ia cek kembali dalam dokumen untuk menghindari kesalahan.

Buku itu berisi sejumlah foto dokumentasi PBTY, dan Murdijati adalah orang pertama yang menjadi ketua pelaksana PBTY pada 2006. Dalam dokumen tersebut Gubernur DIY dan Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta GKR Hemas yang meresmikan PBTY.

Sultan dan Hemas juga sempat mengunjungi stand pameran pakaian khas Tionghoa yang digelar di Hotel Melia Purosani, kala itu.

Singkat cerita, riset pribadi Murdijati, kala itu mendapat sambutan dari UGM. Sejumlah ide pun muncul, “Kenapa harus meneliti makanannya saja, kenapa tidak kebudayaannya sekalian, maka munculah ide untuk membuat pekan budaya Tionghoa,” cerita Murdijati.

Ide menggelar pekan budaya Tionghoa pun disampaikan kepada komunitas Tionghoa di Jogja. Gayung bersambut, ide itu mendapat dukungan dari komunitas Tionghoa, terutama yang tinggal di Ketandan.

Namun masih ada sebagian komunitas Tionghoa yang skeptis atas ide tersebut, karena masyarakat Tionghoa masih dibayang-bayangi masa Orde Baru.

Zaman Orde Baru memang kondisi masyarakat Tionghoa memang sulit untuk bersosialisasi dengan masyarakat karena larangan pemerintah. Bahkan untuk merayakan Tahun Baru Imlek pun biasanya hanya dirayakan sederhana di dalam rumah. Puncaknya pada 1997-1998 terjadi penjarahan dan pemburuan warga Tionghoa.

Supaya mendapat dukungan, rencana pekan budaya Tionghoa pun disampaikan ke Walikota Jogja dan Gubernur DIY. Walikota Jogja-Herry Zudianto-kala itu mendukungnya bahkan isteri wali kota langsung menjadi ketua umum PBTY. Sultan pun sangat mendukung, karena Sultan kala itu juga gencar menggemborkan Jogja sebagai kota city of tolerance.

Berawal dari ide Murdijati, kini PBTY bisa dilaksanakan setiap tahun di Jogja, bahkan dari tahun ketahun kian meriah. Biasanya Murdijati menyempatkan diri untuk menghadiri tiap acara puncak PBTY, namun sejak tiga tahun terakhir dirinya sudah tidak mampu lagi, “Dengan kondisi saya sekarang sulit untuk kemana-mana,” ujarnya.