KAWASAN KUMUH JOGJA : Melihat Pemukiman Warga di Bantaran Kali Code

Sisa jalan setapak di bantaran Kali Code sebagian telah berubah menjadi bagian dari rumah. (Gilang Jiwana/JIBI - Harian Jogja)
29 Februari 2016 14:55 WIB Jogja Share :

Kawasan kumuh di Jogja salah satunya di bantaran Kali Code

Harianjogja.com, JOGJA -- Menelusuri bantaran Code, terutama yang berada di antara jembatan Sardjito hingga Sayidan ibarat nyelonong masuk ke rumah-rumah orang. Jalur jalan di bantara sebagian sudah tak kentara lantaran warga membangun sekat dan menjadikannya sebagai arae perluasan rumah mereka.

Dari hasil penelusuran Harianjogja.com di tepi Code, tampak beberapa rumah permanen menjadikan sdikit jalan yang tersisa di bantaran sebagai bagian rumah mereka.

Di dinding belakang rumah diletakkan kompor dan meja makan. Beberapa rumah memasang sekat kecil yang menandai perbatasan wilayah tempat tinggal, yang lain membiarkannya tanpa sekat dan membiarkan orang bebas berlalu-lalang.

Tak sedikit pula yang sengaja menempatkan sofa atau kursi malas menempel pada tanggul yang membatasi sungai dan jalur kecil bantaran. Yang tak memiliki mebel santai saja menggelar tikar yang menutupi jalan.

Beberapa warga pun sudah terbiasa kala ada orang lain yang lewat melintasi dapur mereka saat sedang beraktifitas. Seakan keberadaan orang asing yang melewati “ruang” dapurnya sudah dianggap bukan lagi hal aneh.

Para penghuni sengaja tak memberi pagar atau pintu agar tak menutupi akses jalan. Siapa saja masih bebas untuk lewat. Untuk memastikan keamanan beberapa warga sengaja memelihara anjing berukuran besar sebagai anjing penjaga. Mereka akan menggonggong keras kala ada orang yang lewat di belakang rumah.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan terdapat 14 kelurahan di sepanjang aliran Code. Tahun 2008 lalu jumlah penduduk di 14 kelurahan itu mencapai 151.580 jiwa.

Di bantaran kali, diperkirakan kepadatannya mencapai lebih dari 481 jiwa per hektare. Jumlah itu sudah masuk dalam kategori kepadatan sangat tinggi.

Salah satu warga bantaran sekaligus aktivis Boyong Code Muda, Momon Khairussalam mengakui masih banyak warga yang menjadikan akses di bantaran sungai sebagai bagian dari rumahnya.

Beberapa tak sungkan juga memosisikan kamar mandi dan ruang tidur mepet dengan jalan. Namun soal kerapihan di kampung bantaran Code saat ini realtif rapi. Antara sungai dan pemukiman sudah dibatasi tanggul tinggi.

Hal ini menurutnya dilakukan karena warga sadar dengan bahaya arus yang deras dan berpotensi menghanyutkan aset mereka. Meskipun begitu masih banyak warga, terutama di sisi utara Code, di utara jembatan Sardjito yang nekat menjadikan delta sungai sebagai tempat untuk beternak.

Bangunan-bangunan semi permanen dibangun di dalam tanggul di gundukan daratan yang muncul di tepi sungai. Mereka biasanya memelihara unggas atau ternak lainnya. Rumah sang pemilik tak jauh dari kandang, juga dengan bangunan semi permanen berdinding papan atau seng. Di area itu, kondisinya justru lebih terkesan kumuh meskipun kepadatannya lebih rendah ketimbang di tengah kota. Bahkan tak sedikit pula yang rumahnya menjadi satu dengan kandang ternak mereka.

“Kalau rumah dan kandangnya masih di balik tanggul masih mending. Kalau yang di delta itu kami sudah sering minta untuk dibongkar, karena kalau hanyut korbannya tanggul sungai di posisi yang lebih rendah, beberapa tanggul sempat ambrol karena material bangunan yang hanyut.” keluh Momon.

Para warga code, lanjut Momon kebanyakan merupakan pendatang. Kebanyakan berprofesi sebagai pekerja serabutan. Kebanyakan bekerja sebagai tukang becak, pekerja bangunan, hingga pedagang.  Namun tak sedikit pula yang merupakan karyawan swasta dan PNS di berbagai bidang. Momon sendiri mengaku tak asli Jogja. Dia berasal dari Jawa Barat dan sudah 10 tahun menetap di bantaran Code.

“Yang dari luar daerah di Code juga sangat banyak, baik yang punya lahan maupun mengontrak,” imbuh dia.