PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Siapkan Bahan Baku Gudeg, Hutan Sodong Ditanami Nangka

04 Oktober 2016 15:20 WIB Sunartono Gunungkidul Share :

Pertanian Gunungkidul mendukung penyediaan kuliner khas Jogja

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Perusahaan asuransi asal Jepang kembali memperpanjang proyek rehabilitasi hutan di Kawasan Suaka Margasatwa Hutan Sodong di Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, DIY.

Sebanyak 160 hektar lahan yang belum maksimal pengerjaannya akan dihijaukan sekaligus pemberdayaan masyarakat dengan ditanami sejumlah pohon, salahsatunya nangka. Pemilihan nangka, diharapkan ke depan bisa memasok bahan baku gudeg di Kota Jogja.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY R Sutarto menjelaskan, dari 430 hektare lahan hutan gundul, berhasil dihijaukan sejak 2004 silam bersama perusahaan asuransi asal Jepang.

Saat ini sudah berdiri 300.000 pohon di atas 350 hektar lahan. Proyek itu telah selesai tahap kedua berakhir pada Maret 2016 yang diperpanjang pada tahap ketiga. Saat ini dari ratusan hektare yang gundul, tersisa sekitar 160 hektare belum optimal sebagaimana layaknya hutan sebagai fungsi ekologis dan ekonomis.

Oleh karena itu melalui proyek tahap ketiga, akan dihijaukan secara merata pada 160 hektare lahan itu sekaligus untuk pemberdayaan masyarakat sekitar.

"Masih ada sisa yang kurang optimal 160 hektare, sudah ada tanaman tetapi belum klimaks atau belum tercipta sebagai hutan yang memiliki fungsi ekologis maksimal," terangnya seusai acara Pemantapan Program Kerjasama Suaka Margasatwa Paliyan di Bangsal Kepatihan, Senin (3/10/2016).

Pengayaan akan terus dilakukan melalui proses restorasi, rehabilitasi dan introduksi berbagai macam tanaman di kawasan Hutan Sodong. Pemilihan tanaman keras yang diharapkan bisa menopang kehidupan ekonomi warga telah dipersiapkan di ratusan hektar lahan itu.

Pohon nangka yang sengaja dipilih sebagai salahsatu upaya memberikan manfaat bagi warga. Apalagi, kata Sutarto, Jogja dikenal sebagai kuliner gudeg dengan bahan nangka. "Untuk [pohon] nangka dan pete, Jogja daerah gudeg, tempat tertentu diperlukan adanya kelestarian [pohon] nangka," kata dia.

Selain itu tanaman lain adalah ada varietas Jati yang bisa dipanen berumur 20 tahun. Kemudian pohon pule yang diharapkan untuk kerajinan serta Melinjo sebagai orientasi tanaman sayuran dan makanan.

Kawasan yang menjadi sasaran proyek tahap ketiga ini berada di ring satu luar Suaka Margasatwa yakni Kecamatan Paliyan dan Kecamatan Saptosari, seperti di Desa Karangduwet, Kepek, Jetis dan Karangasem.

Ia menambahkan, saat ini masih ada sekitar 930 petani yang menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam di area Suaka Margasatwa. Fakta ini sebenarnya menjadi kendala dalam rangka kelestarian flora dan fauna. Oleh sebab itu, dengan dilakukan penanaman di kawasan terluar, diharapkan petani bisa memanfaatkannya untuk mengurangi ketergantungannya di area suaka margasatwa.