KELANGKAAN ELPIJI SLEMAN : Warga "Dipaksa" Beli Gas Non-Subsidi

Petugas pangkalan di Sleman memindahkan tabung gas elpiji tiga kilogram atau gas melon ke truk pengangkut belum lama ini.(JIBI/Harian Jogja - Bernadheta Dian Saraswati)
16 Oktober 2016 02:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Kelangkaan epiji Sleman masih saja terjadi.

Harianjogja.com, SLEMAN- Kelangkaan gas 3kg terus berlanjut. Warga "dipaksa" menggunakan gas non subsidi isi 5,5kg dengan harga yang lebih mahal.

Selain itu, harga eceran gas isi 3kg sudah menyentuh Rp25.000 per tabung. Harga tersebut terpantau di wilayah Condongcatur dan Maguwoharjo, Depok. Sejumlah pengecer yang ditemui mengaku kehabisan stok. Begitu juga di wilayah Ngaglik. Sejumlah pengecer tidak melayani pembelian gas 3kg karena tidak ada stok. Di wilayah ini, harga jual bervariasi antara Rp20.000 hingga Rp22.000 per tabung.

Beberapa warga mengeluh 'hilangnya' gas bersubsidi di pasaran. Suparno, misalnya, warga Karangasem, Depok mengaku kesulitan mendapatkan gas 3kg. Beberapa lokasi mulai Karangasem, Karangyagam, hingga Popongan utara TVRI, tidak ada warung yang menjual gas tersebut.

"Saya sudah dua hari muter-muter, cari gas melon susah. Banyak warung yang kehabisan stok," keluhnya kepada Harianjogja.com, Jumat (14/10/2016).

Akibat sulitnya gas 3kg, beberapa warga terpaksa membeli gas isi 5,5kg atau non subsidi. Harga jualnya pun lebih mahal. Tidak hanya membeli gas non subsidi isi 5,5kg, warga juga bisa menukar gas 3kg dengan isi 5,5kg. Warga yang memiliki dua tabung gas 3kg, dapat menukarnya dengan isi 5,5kg. "Tukar dua tabung gas melon dengan gas isi 5,5 kg, itupun harus menambah biaya Rp102.000. Ada juga yang tukar tambah sampai Rp200.000 lebih," aku Pustopo, warga Mudal, Sariharjo, Ngaglik, yang mengaku terpaksa membeli gas 5,5kg akibat kelangkaan gas 3kg.

Menurut pangkalan gas di wilayah Kalasan, Supardi, 44, kelangkaan gas 3kg karena Pertamina saat ini menerapkan sistem bayar cash di depan sebelum gas elpiji dikirim. Semenjak menggunakan sistem pembayaran tersebut, SY mengaku kekurangan stok. "Sepekan saya dikirim dua kali, 40 tabung satu kali pengiriman. Sekali turun, barang langsung habis. Jadi tidak ada stok," katanya.

Menurut informasi yang dia terima, pemerintah berupaya mengurangi penjualan gas 3kg. Penjualannya akan dilakukan secara tertutup, hanya untuk pemegang kartu miskin.

"Kalau yang mampu bisa beralih membeli tabung gas 5,5 kg. Itu informasi yang saya dapatkan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Sapto Winarno mengaku sudah membuat kesepakatan dengan para pemilik pangkalan agar mematuhi aturan HET. Jika ada pangkalan yang melanggar ketentuan tersebut, pihaknya tidak segan untuk memberikan sanksi. Menurut Sapto, kuota elpiji untuk wilayah Sleman sebanyak 34.934 tabung per hari. "Kuota itu sebenarnya mencukup kebutuhan masyarakat. Kami sudah sampaikan ke pangkalan agar menjual gas 3kg sesuai HET. Kalau sudah sampai di pengecer dan harga elpiji tinggi, kami tidak bisa berbuat apa-apa," katanya.

Sementara itu, Marketing Branch Manager Pertamina DIY dan Surakarta Dody Prasetya mengaku belum mengetahui rencana pendistribusian gas 3kg secara tertutup. Pertamina sendiri menghimbau agar masyarakat menengah atas menggunakan elpiji 5,5 kg atau 12 kg sehingga elpiji 3 kg benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat yang kurang mampu.

"Selama masih belum ada surat resmi dari Pertamina pusat, soal rencana distribusi tertutup pada 2017, anggap saja tidak ada (informasi) itu," katanya.