WISATA JOGJA : Butuh Acara Menarik agar Turis Semakin lama Menginap di Jogja

Pawai bregodo di sepanjang Jalan Malioboro sampai Museum Benteng Vrederbug, Jumat (2/9/2016) sore. (Ujang Hasanudin/JIBI - Harian Jogja)
17 Oktober 2016 13:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Wisata Jogja butuh kegiatan yang menarik

Harianjogja.com, JOGJA-Lama inap para tamu hotel di Jogja menurut DPD Indonesian Hotel General Manager (IHGM) Jogja hanya mencapai 1,8 hari. Menurut IHGM, tingkat lama inap bergantung pada kondisi wisata di sebuah daerah.

Ketua DPD IHGM Jogja Benny Harlan menyampaikan, lama inap para tamu di hotel tidak semata menjadi tugas insan perhotelan.

Tidak hanya menjadi tugas hotel untuk meningkatkan servis pada para tamu, tetapi juga menjadi tanggung jawab semua pemangku kepentingan di dunia pariwisata, seperti Dinas Pariwisata, airlines, Asosiasi Perjalanan Wisata (Asita), bahkan sampai pada sopir taxi dalam menjaga komunikasi dengan klien secara lebih baik.

Dari sisi objek wisata di DIY, IHGM menyoroti bahwa selama ini yang lekat di hati wisatawan masih terbatas pada Candi Prambanan dan Borobudur. Padahal di DIY banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan lebih menarik, seperti Queen of The South yang mana tebingnya dinilai menyerupai Uluwatu, Bali.

“Pantai bagus tapi kurang terkemas dengan baik. Kalau pantainya gitu-gitu aja, nggak bisa berkembang,” kata Benny, Sabtu (15/10/2016).

Ia mengatakan, sebenarnya keberadaan acara-acara bertaraf nasional maupun internasional juga sering digelar di DIY. Namun, kerap kali gaungnya tidak menggema sampai telinga wisatawan domestik dan mancanegara.

Bersambung halaman 2

Ia mencontohkan adanya perhelatan Prambanan Jazz di komplek Candi Prambanan, banyak orang di luar DIY yang belum mengetahui hal tersebut. “Kemasan acaranya yang menarik juga jadi pemancing tamu hotel untuk memperpanjang inapnya,” kata dia, Sabtu (15/10/2016).

General Manager Hotel Pesonna Malioboro Tommy Agung Kartika yang pernah didapuk mengelola pertunjukan Java Jazz di Jakarta mengatakan, orang akan tertarik dengan hal-hal kecil namun dapat digarap dengan memuaskan.

“Misalnya bagaimana orang nonton konser antara di kursi tribun sama di VIP itu suaranya terdengar balance, sama. Orang akan tertarik dengan hal seperti itu,” ucapnya.

IHGM menilai, jika objek wisata dan kegiatan pertunjukan di DIY digarap maksimal, wisatawan akan berdatangan. Warga Jogja sendiri yang tingkat kunjungan ke objek wisatanya sendiri masih rendah juga perlu dipertanyakan.

Apakah karena memang pendapatan mereka kurang atau memang tidak tertarik mengunjungi objek wisata lokal di sekitar mereka sendiri. “Kita perlu duduk bareng mengangkat pariwisata Jogja,” pungkas Benny.