WISATA KULONPROGO : Pengunjung Mangrove Naik, Konservasi Turut Terkerek

Objek wisata Pantai Pasir Kadilangu, Jangkaran, Temon menawarkan keunikan kreasi beragam stan dari bambu di sisi mangrove dan laut selatan Jawa. Jembatan cinta merupakan salah satu spot favorit bagi sebagian besar pengunjung untuk berfoto ria, Senin(22/8/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
24 Oktober 2016 22:55 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Wisata Kulonprogo Mangrove mengalami peningkatan jumlah pengunjung.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Perkembangan wisata mangrove di Jangkaran,Temon, Kulonprogo secara tidak langsung memicu minat masyarakat melakukan penanaman tanaman bakau ini.

Kepala Bidang Kehutanan Dinas Pertanian Kehutanan Kulonprogo, Agus Hariawan mengatakan potensi mangrove di Kulonprogo sebenarnya mencapai luasan sekitar 15 hektar. Potensi tersebut tersebar mulai dari kawasan Kecamatan Temon hingga Kecamatan galur. Hingga kini baru sekitar tujuh hektar yang efektif ditanami oleh Pemkab Kulonprogo.

“Selama ini agak sulit mengkoordinir warga untuk tanam mangrove,” jelasnya kepada Harianjogja.com, Jumat (21/10/2016).

Terlebih lagi, mangrove butuh waktu lima tahun untuk tumbuh besar dan menampakkan akar yang menarik. Keberadaan mangrove sekaligus menghasilkan ekosistem baru yang menambah daya tarik. Agus mencontohkan mangrove di daerah Jangkaran yang ternyata menjadi tempat hidup penyu dan udang.

“Bisa menambah daya tarik wisata dan berefek positif bagi perekonomian warga setempat,” katanya.

Meski tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat, paling tidak sejauh ini dampak wisata tersebut sudah cukup terlihat. Agus menjelaskan kini semakin mudah menginisiasi warga untuk melakukan penanaman mangrove.

Namun, persentasi kegagalan penanaman mangrove sendiri berkisar 50%. Berkaca pada pengalaman pada 2013 lalu, sejumlah mangrove yang ditanam hilang akibat banjir. Pemkab Kulonprogo sendiri melakukan penanaman mangrove sekitar 3.500 batang per tahun sejak 2008 silam. Kebanyakan penanaman dilakukan dengan kerjasama CSR pihak-pihak swasta.

Paling tidak setiap tahunnya terdapat 5-10 pihak swasta yang melakukan CSR dengan penanaman mangrove. Dalam setiap kegiatan, jumlah yang ditanam berkisar 300 hingga 1500 batang. Adapun, penanaman mangrove sendiri relatif tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Warga hanya diharuskan melakukan pemupukan lima bulan setelah penanaman. Khusus untuk daerah penanaman mangrove yang berpotensi sebagai daerah wisata, Agus menyebutkan akan lebih baik apabila tanaman tersebut dipagari untuk menjauhkan sampah.

Kepada Disparpora Kulonprogo, Krissutanto mengatakan bahwa wisata mangrove memang menjadi sedang berkembang pesat saat ini. Meski memang ada sejumlah polemik yang terjadi, pembinaan kepada pengelola wisata mengenai sampah juga telah dilakukan.

Pemkab Kulonprogo sendiri berupaya agar aspek konservasi dan pariwisata tetap berjalan seimbang. Sebagaimana sejumlah pariwisata berbasis alam yang telah dijalankan di Kulonprogo, ia mengharapkan agar wisata jenis ini bisa berlangsung dalam jangka waktu panjang.