PERTANIAN SLEMAN : Keuntungan Semu Petani Cabai

Seorang petani cabai, Wawan, asal Dusun Kalibulus, Bimomartani, Ngemplak, Sleman, menunjukkan buah cabai di sawahnya, Selasa (25/10/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
26 Oktober 2016 05:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Pertanian Sleman untuk tanaman cabai belum meraih untung yang diinginkan.

Harianjogja.com, SLEMAN -- Harga jual cabai merah keriting yang melambung tinggi tetap tak jadi angin segar bagi petani. Sebab, harga yang tinggi tidak sebanding dengan banyaknya cabai yang busuk.

Bak-buk. Begitu seorang petani cabai bernama Wawan Aryono menggambarkan kondisi pertanian cabai tahun ini. Di satu sisi, cabai merah keriting yang ia jual dihargai sampai Rp40.000 per kilogram (kg) oleh pengepul. Nilai yang cukup fantastis baginya karena saat kondisi normal, cabai panenannya hanya terjual di bawah Rp16.000.

Tapi pada sisi lain, banyak cabai yang terbuang karena busuk pada panenan kali ini. Dalam sekali petik, ia mampu mengumpulkan 15 kg cabai busuk yang telah mengering. Cabai-cabai itupun tak layak lagi  dijual. Bahkan untuk diolah sendiri menjadi sambal pun ia tidak tega untuk melakukannya. Baginya kondisi pertanian cabai saat ini hanya menuai keuntungan semu, karena uang yang ia terima tidak sebanding dengan belasan kilogram cabai yang terbuang.

Nasib apes sepertinya harus ia alami tahun ini. Sebab, selain busuk, cabai keriting merah yang lainnya juga kurang segar seperti tahun kemarin. Bisa dikatakan panenan tahun ini masuk kategori cabai kualitas II. Bentuk cabai lebih kecil dan sedikit berkeriput.

“Cuacanya di luar dugaan. Sekarang banyak hujan,” kata Wawan ditemui Harianjogja.com saat memantau lahan cabainya yang terletak tak jauh dari rumahnya di Dusun Kalibulus, Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Selasa (25/10).

Rasa yakinnya pada Juli lalu sempat membulatkan tekadnya untuk menanam cabai. Dalam pikirannya saat itu, hasil panenan selama empat bulan ke depan atau sampai November  akan baik karena diprediksi belum turun hujan.

Namun, kenyataan berkata lain. Beberapa hari setelah bibit cabai tertanam, intensitas hujan justru semakin tinggi. Bahkan satu bulan terakhir ini hujan mengguyur lahannya setiap hampir setiap hari. Kondisi itu membuat buah cabai mudah membusuk. Tak heran jika setiap kali petik ia harus merelakan belasan kilogram cabai untuk dibuang ke sungai.

Cabai yang layak jual pun juga tak melimpah seperti tahun kemarin. Masih jelas diingatan Wawan, saat tahun lalu ia bisa mengumpulkan sampai 1,5 kuintal cabai dalam sekali petik. Tetapi, panenan kali ini turun drastis. Selama 10 kali petik ini, jumlah petikan terbanyak hanya mencapai 12 kg cabai.

Jika bisa memilih, bapak satu anak ini lebih menginginkan harga jual cabai rendah tapi kualitasnya bagus, dari pada harga cabai tinggi tetapi banyak yang busuk.

“Kalau sudah busuk, nggak bisa ditawar. Kalau bagus, masih bisa terjual semua,” katanya sembari berteduh di bawah pohon talok dekat sawahnya seluas 800 meter persegi itu.

Untuk menanam cabai kali ini, ia sudah mengeluarkan modal Rp4,5 juta. Sampai petikan ke-10 ini, hasil penanen memang sudah mampu menutup modalnya. Namun, 10 kali petikan yang akan datang diprediksi akan semakin turun karena semakin tua tanaman cabai, jumlah buah cabai akan menurun.

“Tapi bersyukurlah sudah balik modal. Seminggu lagi bagian bawahnya mau saya tanami timun biar nambah pemasukan,” tutupnya.