PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Prospektif, Tanaman Kakao Mulai Digalakkan

Salah seorang warga di Desa Bejiharjo melakukan perawatan terhadap tanaman kakao yang dimilikinya, Selasa (22/11/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
23 November 2016 15:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

ertanian Gunungkidul mulai menggalakkan tanaman kakao

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunungkidul mengajak masyarakat untuk menggembangkan budidaya kakao secara massif.

Hal itu tidak lepas dari pembudidayaan yang belum maksimal, padahal dari sisi bisnis tanaman bahan baku coklat ini memiliki nilai prospek yang bagus.

Hingga saat ini luas lahan yang ditanami kakao ada sekitar 1.300 hektar. Dinas pun berharap ada perluasan lahan kakao sebanyak 100 hektare setiap tahunnya.

“Meski penanaman jadi hak dari petani, tapi kami mengajak untuk melakukan budidaya secara massif sehingga panennya bisa lebih maksimal,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunungkidul Bambang Wisnu Broto kepada wartawan, Selasa (22/11/2016).

Menurut dia, banyak manfaat yang didapatkan dalam budidaya kakao. Selain potensi pasar yang masih sangat besar, tanaman ini juga bisa dikembangkan dengan model tumpang sari.

Bambang pun menyontohkan, dalam pengembangan desa kakao di Dusun Gambiran, Bunder, Kecamatan Patuk, cara penanaman tidak hanya dilakukan dengna fokus terhadap kakao. Sebab dalam praktiknya, di sekitar kebun juga ditanami beberapa tanaman buah seperti durian, sirsak, mangga atau pun rambutan.

“Dengan model ini saya kira petani bisa dapat untuk lebih. Namun yang paling penting komposisinya harus seimbang sehigga seluruh tanaman bisa tumbuh maksimal,” ungkapnya.

Saat ini, tanaman kakao banyak ditemukan di sejumlah kecamatan seperti Patuk, Nglipar, Gedangsari, Karangmojo, Semin dan Ponjong. “Dari budidaya ini, Gunungkidul juga masuk dalam delapan daerah pengelola biji kakao terbaik di Indonesia,” imbuh Bambang.

Untuk mendukung pengembangan tanaman kakao di Gunungkidul, Dinas Kehutanan dan Perkebunan juga sudah mendirikan kebun induk kakau. Deplo ini didirkan dengan tujuan untuk menyediakan benih yang dibutuhkan petani.

Terlebih lagi, selama ini benih kakao yang ditanam berasal dari Jember, Jawa Timur. “Mudah-mudahan dengan pendirian kebun induk ini, kebutuhan benih mudah didapatkan dan tentunya harganya juga lebih murah,” kata Bambang lagi.

Salah seorang petani kakao di Desa Bunder, Patuk Paryanto mengakui komoditas ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Bahkan pangsa pasar dari tanaman untuk membuat coklat ini juga sudah menembus pasar ekspor.

Kendati demikian, dia mengakui untuk budidaya yang lebih luas lagi butuh peran yang lebih dari pemerintah. Pasalnya tanpa komitmen itu maka prosesnya tidak akan maksimal.

“Saya rasa minat petani untuk menanam sudah tinggi. Buktinya petani di kawasan pesisir sudah belajar ke sini [Bunder],” katanya.