TRANSMIGRASI ASAL BANTUL : Pernah 20 Tahun Jadi Transmigran, Mujiyono Ingin Berangkat Lagi, tapi...

Mujiyono sedang duduk di teras rumahnya di Dusun Warungpring, Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, Senin (21/11/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI - Harian Jogja)
27 November 2016 08:20 WIB Irwan A Syambudi Bantul Share :

Transmigrasi asal Bantul diminati Mujiyono karena kesulitan membeli tanah

Harianjogja.com, BANTUL- Pengahasilan Mujiyono ,49, sebagai buruh bangunan tak cukup membeli lahan untuk sekedar bercocok tanaman sekedar memperoleh penghidupan yang layak. Sempat tergiur dengan program transmigrasi demi memperoleh lahan untuk bercocok tanam, dia akhirnya tak jadi berangkat.

Kedatangan saya disambut oleh Mujiyono yang telah duduk di sebuah bangku teras rumahnya. Ukuran Rumah Mujiyono tak terlalu besar hanya sekitar 7x12 meter persegi. Rumah yang bediri di lahan seluas 300 meter persegi itu belum sepenuhnya jadi. Temboknya hanya dilapisi semen kasar, sementara di sana-sini masih terlihat batu bata yang belum tertutup semen.

“Ini bukan rumah saya, tapi rumah mertua saya,” ujarnya.

Rumah di Dusun Warungpring, Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, yang ditempati Mujiyono itu pun juga merupakan bantuan dari pemerintah. Bangunan itu dibangun saat mendapatkan bantuan usai gempa hebat 10 tahun silam.

Di rumah itu, Mujiyono tinggal bersama dengan istri, empat anaknya, dan mertua perempuanya. Dia merupakan salah satu tulang pungung keluarga, pencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari. Selain anak nomor duanya yang bekerja sebagai pelayan di sebuah mini market.

Sehari-hari Mujiyono merupakan seorang buruh bangunan. Saat ada pekerjaan, per hari dia digaji Rp60.000. Namun kala tak bekerja dia hanya di rumah, memanfaatkan sisa pekarangannya yang tersisa di samping rumahnya untuk ditanami cabe dan pohon pisang.

Namun siang itu, Mujiyono sedang tak bekerja dan tak juga menyiram tanaman. Dua bulan terakhir dia hanya bisa duduk-duduk dirumah, sekedar menyiram tanaman cabe dan memberi makan ikan di kolam kecil depan rumahnya. Pekerjaanya sebagai buruh bangunan terpakas dia tinggalkan sementara waktu.

Sekarang ini dia tak dapat melakukan aktifitas fisik terlalu berat. Akibat kecelakaan motor yang dialaminya, tulang di bagian perbukuan kakinya mengalami retak. “Ini kemarin remuk,” katanya sambil memegangi kaki bagian dengkul yang masih diperban.

Akibat tak dapat bekerja selama dua bulan dia tak memiliki penghasilan. Mujiyono berandai, jika saja mampu membeli lahan untuk bercocok tanam, mungkin dia akan dapat lebih sejahtera. Namun penghasilannya yang tak menentu itu bahkan hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari.

Harga tanah yang yang sedianya siap untuk digunakan bercocok tanam haraganya sampai Rp500.000 per meter. Mujiyono mengatakan mustahil untuk membelinya. Jalan satu-satunya demi mendapatkan lahan untuk bercocok tanam adalah dengan ikut transmigrasi.

Pada 2012 dia mendaftar ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinaskertas) Kabupaten Bantul, demi mewujudkan wujudkan keinginaya peroleh lahan. Pria yang hanya lulusan Sekolah Dasar ini mengaku tak punya ide lain selain bercocok tanam. Dia kesulitan untuk memperoleh pekerjaan.

Menunggu selama tiga tahun, akhirnya dia mendapatkan panggilan dari Dinaskertrans untuk segera diberangkatkan ke Pulau Sumatera. Segala persiapan telah dia lakukan. Dia mengikuti pelatihan pengolahan lahan yang diselengarakan Dinaskertrans dan pejelasan tentang lokasi transmigrasi telah dia dapat.

Namun kondisi keluarga memaksanya untuk tak jadi berangkat. Orang tuanya yang mulai sakit-sakitan dan mertuanya yang juga sudah mulai menua mengharuskanya tetap tinggal, untuk merawat mereka. Mujiyono akhirnya tak jadi berangkat, dia kemudian memilih menjadi buruh bangunan.

Meskipun tak jadi berangkat, kini dia tak lagi menyesalinya. Pada 1989, dia mengaku sudah pernah menjadi transmigran di Kabupaten Pelelawan, Provinsi Riau. Sekitar dua puluh tahun lebih dia menjadi transmigran hingga memiliki lima orang anak.

Dia memutuskan pulang karena kondisi orang tua dan mertuanya yang sudah mulai sakit-sakitan. Namun anak laki-laki nomor satunya sampai sekarang masih tinggal di lokasi transmigrasi, mengelola dua hektar lahan yang diberikan pemerintah. Sedangkan keempat anaknya ikut pulang bersamanya.