TRADISI SLEMAN : Ritual 'Kenduri Banyu Udan' Ajak Masyarakat Memanfaatkan Air Hujan

28 November 2016 14:55 WIB Sleman Share :

Tradisi Sleman digelar berupa ritual Kenduri Banyu Udan

Harianjogja.com, SLEMAN- Mendengar air hujan pastilah sebelumnya tidak pernah terpikir untuk memanen atau memanfaatkannya sebagai sumber kehidupan. Namun demikian hal tersebut sangatlah tidak mustahil dilakukan, kini masyarakat di Dusun Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman sudah memanfaatkan air hujan untuk mencukupi kebutuhan air selama hidup.

Cuaca hari Minggu kali terasa berbeda, panas matahari tidak menyengat karena tertutupi oleh awan mendung berwarna abu-abu gelap. Ratusan warga Dusun Tempuran satu per satu mulai berdatangan, lokasi kenduri tepat berada ditengah-tengah dusun berada di sebuah perempatan kecil yang menggambarkan empat penjuru mata angin juga sudah penuh dengan kedatangan warga.

Masyarakat ini berkumpul karena mereka hendak melakukan sebuah ritual atas rasa keprihatinan terhadap kondisi alam saat ini. 'Kenduri Banyu Udan' selain bentuk rasa prihatin juga merupakan sebuah aksi kampanye dari masyarakat Dusun Tempuran untuk mengajak seluruh manusia di Dunia memanfaatkan air hujan sebagai sumber kehidupan.

Ketua Panitia kegiatan, Kamaludin, mengatakan prosesi memanen banyu atau air hujan akan dimulai dengan ritual doa kemudian dilanjut kirab dengan membawa air hujan keliling kampung.

"Sebenarnya ini hanya sebagai simbol saja dari bentuk keprihatinan warga atas kondisi alam, sementara manusia semakin hari juga hanya memanfaatkan air tanah sementara jarang dari mereka untuk memanfaatkan air hujan," katanya, saat ditemu sebelum prosesi kenduri dimulai, Minggu (27/11/2016).

Tak selang berapa lama saat memulai perbincangan dengan Bang udin sapaan akrab Kamaludin, acara kenduri segera dimulai. Dibuka dengan tari-tarian yang dilakukan oleh remaja putri prosesi dimulai. Pemilihan remaja putri inipun ternyata memiliki filosofi tersendiri, mereka menggambarkan kelembutan dan kecantikan sosok air.

Dengan iringan doa masyarakat semua bersatu menjadi subyek tanpa ada halangan yang mengabarkan kebhinekaan. Tiga penari laki-laki dengan membawa kendi kemudian naik keatas panggung, dengan diikuti oleh tokoh agama kemudian prosesi dilanjut dengan doa.

"Sebagaimana menurut warga air hujan juga merupakan berkah dan rezeki dari Tuhan yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jadi doa ini sebagai wujud rasa bersyukur," katanya.

Usai berdoa, para penari perempuan sudah berbaris bersiap mengarak air hujan keliling kampung bersama para warga. Langkah mereka diawali oleh ketiga penari laki-laki kemudian mereka berjalan berkeliling kampung dengan semua masyarakat, Dukuh, Lurah, Camat dan tokoh masyarakat lainnya.

Tokoh Masyarakat Dusun Tempursari, Darsono mengatakan sebagai kegiatan awal, kenduri ini telah dilaksanakan baik. Pesan yang akan disampaikan untuk mengkapamnyekan pemanfaatan air hujan sangat mendapat dukungan dari para masyarakat.

"Jika masyarakat semakin banyak yang memanfaatkan air hujan, dampaknya juga akan sangat positif. Karena jika masyarakat hendak memanfaatkan air hujan mereka juga akan memikirkan mengenai kebersihan lingkungan juga," ujarnya.

Saat prosesi kenduri selesai, masyarakat yang hadir kemudian mengikuti kegiatan sarasehan dengan tema 'Air Hujan Sumber Kehidupan' dalam sarasehan tersebut masyarakat kembali membicarakan banyak fungsi dan manfaat dengan memanen air hujan. Secara perhitungan kejernihan pun jika dibandingkan dengan air tanah, air hujan memiliki tingkat kejernihan yang lebih baik.

Dengan demikian guna mengurangi gejala kerusakan alam dan kebutuhan air, masyarakat saat ini harus lebih berperan. Tidak hanya mengandalkan keberadaan air tanah, masyarakat harus lebih bisa memanfaatkan air hujan untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari.

"Bisa dilakukan secara manual, dengan menampung air menggunakan ember contohnya, atau jika memiliki sedikit uang masyarakat bisa menggunakan bak air besar dan membuat instalasi saluran dari genteng untuk menampung air hujan," pungkasnya.