UMKM GUNUNGKIDUL : Rumah Coklat Jadi Contoh Agribisnis Desa

03 Desember 2016 20:20 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

UMKM Gunungkidul berupa rumah produksi pengolahan coklat.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Warga Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul kini memiliki rumah produksi pengolahan coklat. Budidaya kakao dan agribisnis di Desa Nglanggeran dapat dijadikan contoh pengembangan agribisnis di desa yang berpotensi mengdongkrak ekonomi.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Jumat (2/12/2016) meresmikan Griya Coklat di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul yang lokasinya berdekatan dengan objek wisata gunung purba dan embung Nglanggeran.

Griya Coklat itu menampung produk hasil pengolahan tanaman kakao di Nglanggeran yang dilakukan oleh warga setempat. Produk olahan kakao itu antara lain berupa minuman coklat, bubuk coklat dan coklat padat. Selain showroom, lokasi tersebut juga dijadikan rumah produksi. Wisatawan yang berkunjugn ke Nglanggeran dapat singgah membeli oleh-oleh coklat asli Gunungkidul.

Rumah coklat tersebut dibangun berkat bantuan dari berbagai pihak. Antara lain Bank Indonesia Jogja, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jogja Arif Budi Santoso mengatakan, lembaganya melakukan pembinaan terhadap kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Nglanggeran dalam usaha produksi coklat.

Selain pemberdayaan manajemen anggota UMKM, juga diberikan bantuan sarana prasarana. Menurut Arif Budi Santoso, Bank Indonesia berkepentingan menjaga inflasi di suatu daerah. Salah satu caranya adalah mengembangkan komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi seperti kakao.

“Tahun pertama pendampingan pada 2014 yaitu fokus pada produksi tanaman kakao. Tahun kedua pengembangan pengolahan produk kakao dan penguatan kelompok masyarakat. Tahun ini dilakukan diversifikasi dengan menciptakan produk coklat batang,” kata Arif Budi Santoso, Jumat.

Sementara itu LIPI yang memiliki kemampuan dalam pengembangan teknologi berperan penting membantu transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat setempat dalam mengolah kakao menjadi produk bernilai lebih tinggi. Seperti coklat padat dan minuman coklat bubuk.

“Sejak 2015 lalu kita menghadapi pasar bebas ASEAN, tugas kami sebagai produsen teknologi memberikan teknologi yang kami punya untuk menyejahterakan masyarakat, dengan memberi nilai tambah pada komoditas kakao,” jelas Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto.

Sementara itu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pentingnya masyarakat mengubah pola pikir mereka agar tidak stagnan sebagai petani yang memproduksi kakao. Namun berfikir bagaimana berbisnis dan mengolah hasil tanaman mereka agar bernilai tinggi.
“Saya hanya mohon satu hal, buat variasi produk coklat yang enak bagi konsumen. Bukan enak menurut orang yang membuat, tapi enak menurut konsumen,” tutur Sultan.