KRATON JOGJA : Gamelan Dimainkan di Pagongan Kidul, Mayoritas Penikmatnya adalah Lansia

11 Desember 2016 19:20 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Kraton Jogja mengeluarkan Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga di Pagongan Kidul Masjid Gedhe Kauman

Harianjogja.com, JOGJA- Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga sejak dikeluarkan dari Bangsal Pancaniti melalui Upacara Miyos Gangsa, terus menarik perhatian masyarakat Jogja di tengah perayaan pasar malam Sekaten.

Sejak berada di Pagongan Masjid Gede Kauman, lantunan gending sepasang gamelan ini seolah mengobati kerinduan sejumlah masyarakat Jogja, terutama para orang lanjut usia yang setiap tahunnya tidak pernah melewatkan momen sakral ini.

Tepat pukul 11.00 WIB, gamelan Kyai Guntur Madu mulai dimainkan sejumlah abdi dalem Kraton Ngayogyakarta. Sejumlah orang lanjut usia, mayoritas adalah wanita yang usianya nyaris seabad, berdiri dengan khidmat mendengarkan lantunan gending gamelan itu di depan pagar Pagongan Kidul Masjid Gede Kauman.

Usia senja tak melunturkan niat pini sepuh ini untuk menyaksikan kesakralan dua pasang gamelan yang dimainkan setahun sekali di tengah perayaan pasar malam Sekaten.

Seorang perempuan lanjut usia mengenakan jas abu-abu tua, di lehernya melingkar syal batik hijau sembari menggenggam erat payung yang seolah menjadi penyangga tubuh rentanya. Mbah Warno, demikian dia menyebut namanya, ketika disambangi Harian Jogja di depan pelataran Pagongan Kidul Masjid Gede Kauman, Rabu (7/12/2016).

Nenek berusia 84 tahun ini ditemani sang anak, menyaksikan lantunan musik gamelan yang masih terdengar sama saat kali pertama ia dengar waktu muda dulu. Setiap tahun, Mbah Warno mengaku selalu menyempatkan untuk datang menyaksikan para abdi dalem kraton memainkan gamelan-gamelan ini.

"Sampun pendak tahun, nalika tasih diparingi sehat, mesti mboten ketang ngungak [Sudah setiap tahun, selama masih diberi kesehatan, paling tidak melihat sebentar]," ujar Mbah Warno.

Aris, anak perempuan Mbah Warno mengungkapkan setiap tahun dia selalu mengantar simbah menyaksikan gamelan kraton ini ditabuh menjelang puncak acara Sekaten. Hari itu dia berangkat dari rumah di wilayah Samas, Bantul, pukul 10.00 WIB. Sesampainya di pelataran Masjid Gede Kauman, dirinya masih sempat mendengar lantunan gamelan Kyai Naga Wilaga yang ada di Pagongan Lor.

"Kata simbah, bukan sekadar mendengar gamelannya. Tetapi memohon berkat, kesehatan dan keselamatan dari gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga," ungkapnya.

Bukan hanya Mbah Warno yang datang di tengah usianya yang senja demi bisa menikmati gending bernafaskan Islam dari kedua gamelan sakral ini. Sujariyah, nenek 77 tahun ini juga datang bersama rombongan senam lansia dari Godean, Sleman. Sudah menjadi kebiasaannya, setiap perayaan Sekaten selalu menyempatkan diri untuk bisa menyaksikan dua buah gamelan ini dimainkan.

"Kalau saya untuk hiburan saja, karena setiap tahun pasti saya ke sini untuk melihat gamelan ini. Nanti pulangnya, sambil bawa Sego Gurih dan daun sirih," ungkap nenek berkacamata ini.

Di masa lalu, gamelan menjadi salah satu piranti dalam syiar agama Islam di tanah jawa. Tak sekadar sebagai hiburan rakyat, tradisi membunyikan gamelan di serambi masjid sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak.

Tradisi ini awalnya digunakan untuk menarik perhatian rakyat agar berkumpul di serambi masjid yang pada masa itu kepercayaan yang berkembang yakni masih animisme, hindu dan budha.

Gending-gending yang dimainkan pun baik secara filosofis maupun musikalitas, mengandung makna islami. Sebut saja gendhing Rambu, Rangkung, Salatun, Subinah, Ngayatun, Jaumi, Wirangrong dan Burung Putih. Riwayat dua gamelan yang akan dimainkan hingga tanggal 12 bulan mulud atau dalam kalender masehi hingga Minggu (11/12/2016), berawal dari masa Sultan Agung.