Nyadran Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Leluhur

Warga sedang ikut kenduri dan doa bersama di kompleks makam Luang Tunggal, sebagai salah satu agenda kegiatan nyadran agung, di Dusun Karang Wetan, Desa Salamrejo, Senin (15/5/2017). (Uli Febriarni/JIBI - Harian Jogja)
16 Mei 2017 12:34 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Nyadran Agung, yang dilakukan oleh warga Dusun Karang Wetan, Desa Salamrejo, pada Senin (15/5/2017),

Harianjogja.com, KULONPROGO- Nyadran Agung, yang dilakukan oleh warga Dusun Karang Wetan, Desa Salamrejo, pada Senin (15/5/2017), menjadi salah satu cara melestarikan budaya dan mengenalkan tradisi.

Warga setempat memusatkan kegiatan tersebut di komplek makam Luang Tunggal. Dimulai sekitar pukul 13.00 WIB, ratusan warga sudah berkumpul di rumah budaya Bale Langit.

Hampir semuanya mengenakan pakaian Jawa, lengkap dengan blangkon, surjan bagi kaum pria dan kebaya bagi para wanita. Baik orang dewasa hingga anak-anak yang masih berpakaian seragam sekolah kumpul di satu lokasi yang sama.

Salah seorang warga, Suprihatin menyatakan dirinya mengikuti kegiatan ini setiap tahun. Mulai dari kirab hingga makan bersama nasi gurih dengan ayam ingkung yang dibagikan panitia.

"Tradisi ini memiliki kearifan lokal yang harus dipertahankan, dengan begitu anak muda bisa memahami makna dan nilai budaya yang ada dalam nyadran agung," kata dia, Senin.

Kepala Desa Salamrejo, Dani Pristiawan mengungkapkan, dalam kegiatan tersebut, warga bersama-sama mengirim doa kepada leluhur mereka, yang dimakamkan di makam Luang Tunggal. Sesuai dengan namanya, makam luang tunggal berarti di dalam satu liang ada lebih dari satu jasad yang dimakamkan.

Ia menyebutkan, di sana dimakamkan Kyai Abudagur dan Panembahan Modangkoro Hanyrokrokesumo yang juga dikenal dengan Joko Lungo Ngungun. Keduanya merupakan pertapa pada jaman Majapahit hingga meninggal dan dimakamkan di tempat ini.