Pameran Seni Rupa Raja Kaya Wujud Ironi Kehidupan Sosial Masa Kini

Kegiatan membajak sawah yang dilakukan oleh salah satu petani di Dusun Kembangarum, Desa Donokerto, Kecamatan Turi dengan menggunakan sistem tradisional yakni dengan menggunakan kerbau, Sabtu (11/3/2017) (Mayang Nova Lestari /JIBI - Harian Jogja)
17 Mei 2017 16:21 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Perupa Budi Ubrux akan mengadakan pameran tunggal dengan tema Raja Kaya di Taman Budaya Yogyakarta

 
Harianjogja.com, JOGJA--Perupa Budi Ubrux akan mengadakan pameran tunggal dengan tema Raja Kaya di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 18 Mei sampai 31 Mei 2017.

Kurator pameran, Suwarno Wisetromo mengatakan raja kaya merupakan kata yang cukup familiar di kalangan masyarakat Jawa. Kata ini kurang lebih bisa diartikan sebagai kekayaan. Ia mengatakan masyarakat Jawa dulu sudah merasa kaya ketika punya ayam, sapi, tegalan dan sawah.

Tapi, ia mengatakan sekarang semua berubah seiring dengan pergeseran gaya hidup masyarakat yang cenderung lebih hedonis. Masyarakat kini tak cukup hanya punya sapi dan sawah, orang-orang butuh mobil bagus, rumah bertingkat, dan tabungan, yang diusahakan dalam jumlah yang melebihi kebutuhan.

Pekerjaan sebagai petani, imbuhnya, tidak dipandang sebagai pekerjaan yang mampu untuk mewujudkan semua keinginan tersebut. Akhirnya beberapa petani beralih ke profesi yang lebih menjanjikan seperti pegawai dan pengusaha.

“Tema raja kaya adalah pernyataan Budi Ubrux dari sudut pandang kritis terkait dengan ironi-ironi yang terdapat dalam hamparan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya di Indonesia,” kara Suwarno saat jumpa pers di restoran Bale Raos, Selasa (16/5/2017).

Menurut Suwarno nantinya akan dipamerkan beberapa lukisan Budi Ubrux yang terinspirasi dari lukisan-lukisa S. Sudjono yang berjudul Mengatur Siasat, Indahnya Indonesiaku (1986), serta Corak Seni Lukis Indonesia Baru (1986).

“Ubrux melihat kaitan antara kesejahteraan pangan hari ini, dengan lukisan Sudjojono, yakni tidak adanya siasat yang matang, akhirnya menghasilkan ironi. Diperlukan mengatur siasat mengenai kepemilikan tanah, reformasi agraria, pengolahan hutan agar masyarakat terjamin pangannya, kemudian papan dan sandangnya,” ungkap Suwarno.

Sementara itu, Budi Ubrux mengaku sudah mempersiapkan pamerannya selama 1,5 tahun dan dikerjakan sangat serius. Ia mengatakan merasa kurang percaya diri berpameran di Jogja, padahal selama ini ia sudah sering pameran di kota lain dan juga di luar negeri.

“Ada ketakutan dalam diri saya untuk pameran tunggal di Yogyakarta. Kalau di kota lain saya cuek, tapi disini saya kurang percaya diri karena kota ini ibaratnya negara super power, kawah candradimuka bagi perupa,” jelasnya.

Ia mengatakan Jogja selama ini merupakan tempat tinggal bagi banyak perupa-perupa handal sehingga kota ini menjadi pusat perhatian pengamat seni dan bisa dikatakan sebagai barometer seni rupa Indonesia. “Oleh karena itu saya harus mempersiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh," katanya

Budi Ubrux sendiri dikenal sebagai perupa yang karya-karyanya identik dengan binatang sapi dan korn yang membalut di setiap objek lukisannya.