PERTANIAN KULONPROGO : Meski Mahal, Bawang Merah Srikayangan Primadona Luar Daerah

Ilustrasi bawang merah (Juli Nugroho/JIBI - Bisnis)
21 Mei 2017 15:22 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Pertanian Kulonprogo untuk bawang merah diminati konsumen luar daerah

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Bawang merah dan benih bawang merah varietas lokal Desa Srikayangan, banyak diminati pembeli dari luar Kulonprogo.

Ketua Kelompok Tani Sri Tani Rukun Karangasem Kulon Murjono, mengatakan, hasil produksi Januari 2017 hingga April, bawang merah varietas lokal Srikayangan terbaik dibeli tengkulak dari wilayah Sumatera dan sejumlah daerah lainnya. Kendati memiliki selisih harga Rp6.000 hingga Rp7.000 dibandingkan benih varietas lainnya. Ia menyebutkan, kualitas bawang merah Srikayangan memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan bawang merah hasil produksi Demak dan Brebes (Jawa Tengah) .

"Misalnya waktu tanam yang pendek, membutuhkan waktu 45 hari sudah besar. Sedangkan varietas lain, membutuhkan waktu hingga 55 hari," kata dia, Jumat (19/5/2017).

Hasil benih siap tanam varietas ini mencapai Rp60.000 per Kilogram (Kg), satu Kg benih mampu menghasilkan 15 Kg bawang, apabila tanaman dirawat dengan baik. Harga jual bawang merah di tingkat petani saat ini sudah mencapai Rp25.000 per Kg. Tidak termasuk biaya mencabut dan membersihkan bawang, yang ditanggung oleh pedagang atau tengkulak.

Sementara itu petani yang lain, Sukiran menuturkan, di Srikayangan terjadi perbedaan kondisi pertanian bawang merah. Untuk wilayahnya, hasil panen sempat tidak optimal, karena cuaca buruk, serta serangan hama ulat. Sehingga ia beralih ke tanaman padi, dan baru memulai masa tanam bawang merah pada akhir Juli 2017 mendatang, paska panen padi.

Senada dengan Murjono, harga benih bawang merah Srikayangan masih bertengger pada harga Rp50.000 hingga Rp60.000 per Kg, mengingat kualitasnya yang baik. Misalnya berdaun rapi, dan lapisan luar yang tipis, memudahkan bawang untuk dikupas. Sedikitnya ia bisa memproduksi benih bawang merah varietas lokal sebanyak satu kuintal.

Kini, pihaknya mulai mengembangkan benih varietas Srikayangan organik dan lebih ramah lingkungan. Ia sendiri mulai mengurangi penggunaan pupuk maupun obat kimia di lahan pertanian yang ia miliki. Hanya saja kendalanya, belum banyak petani yang beralih ke pertanian organik ini memiliki hewan ternak sebagai sumber pupuk alami.

"Untuk petani lain, banyak yang mendatangkan kotoran hewan dari tempat lain," kata dia.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Eko Purwanto mengatakan, harga benih bawang merah yang tinggi disebabkan panen bawang merah di akhir tanam 2015 atau awal 2016 kurang berhasil karena serangan virus. Sehingga produksi benih turun, termasuk juga turunnya bawang merah konsumsi. Tingginya harga benih bawang merah juga bersamaan dengan adanya pembatasan impor bawang merah.