20 Bumil di Bantul Terdeteksi Kurang Gizi

Ilustrasi wanita hamil (Pregnancy.lovetoknow.com)
29 Mei 2017 22:22 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Dari sekitar 450 ibu hamil yang memeriksakan kesehatannya di Puskesmas Kasihan I, 20 diantaranya terdeteksi mengalami kurang gizi

Harianjogja.com, BANTUL --Dari sekitar 450 ibu hamil yang memeriksakan kesehatannya di Puskesmas Kasihan I, 20 diantaranya terdeteksi mengalami kurang gizi atau Kekurangan Energi Kronik (KEK) maupun anemia.

Deteksi dini gejala kekurangan gizi pada ibu hamil dapat diidentifikasi dari ukuran lingkar lengan atas (lila). Jika lila kurang dari 23,5 centimeter maka termasuk kurang gizi.

Guna menangani permasalahan ini, Puskesmas Kasihan I menggandeng Universitas Aisyiyah dalam program pendampinang selama tiga bulan Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) Perawatan Kolaborative Kesehatan Ibu Hamil dengan KEK (Wakol Kolek).

Pendampingan yang dilakukan mencakup penyuluhan gizi, pemeriksaan atropomteri, pemeriksaan hemoglobin (HB), penimbangan berat badan, pemeriksaan lila, dan senam kehamilan.

"Dari 20 bumil tersebut, 10 diantaranya kami dampingi karena tergolong kurang mampu," ujar ketua tim PKM-M Wakol Kolek, Rosmiati A. Rifai pada Minggu (28/5/2017).

Rosmiati mengatakan ada banyak faktor kenapa seorang bumil menderita kekurangan gizi. Diantaranya pola makan yang kurang baik, pengetahuan yang terbatas, serta kendala ekonomi.

Padahal jika bumil kekurangan gizi maka akan berdampak buruk pada kandungannya. Menurutnya, bayi bisa lahir prematur, Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), cacat bawaan pada bayi, bahkan dapat menyebabkan kematian bayi.

Ia berharap selain sebagai bentuk pengabdian mahasiswa agar ilmu dan tenaga mereka bermanfaat bagi masyarakat, program pendampingan ini juga dapat mengatasi permasalahan bumil kekurangan gizi di wilayah kerjanya.

Rosmiati juga mengharapkan melalui program ini, para bumil, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya mendapatkan informasi seluas-luasnya tentang pemenuhan gizi selama kehamilan sehingga dapat turut bekerjasama demi menekan angka bumil kurang gizi dan kematian saat melahirkan.

"Keadaan gizi masyarakat yang optimal dapat meningkatkan produktifitas dan angka harapan hidup masyarakat," ujarnya.

Salah satu bumil yang menderita kurang gizi, Fitria mengatakan ini merupakan kehamilan pertamanya. Saat memeriksakan kesehatan, ia terdeteksi mengalami kurang gizi karena lila yang dimiliki di bawah 23,5 cm.

Dinilai kurang mampu, ia pun diikutkan dalam program PKM-M Wakol Kolek. "Saya senang ikut program ini, semoga saya dan bayi sehat," katanya.