Tegalsari Punya Potensi Tanaman Kopi, Warga Belum Termotivasi

20 Februari 2018 07:20 WIB Beny Prasetya Kulonprogo Share :

Potensi kopi di Dusun Tegalsari Purwosari Girimulyo masih terkendala konsistensi petani

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Potensi kopi di Dusun Tegalsari Purwosari Girimulyo masih terkendala konsistensi petani dan masalah sarana prasarana. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dusun Tegalsari dan petani kopi setempat.

Kepala Dusun Tegalsari, Sajuliyanta mengungkapkan bahwa di Tegalsari setidaknya ada sekitar sepuluh orang yang berprofesi sebagai petani kopi. Hanya saja, kebanyakan dari mereka tidak melakukan sebagai profesi utama. Hal itu terjadi karena warga belum mendapatkan hasil langsung dari menanam kopi.

"Mereka masih menunggu seseorang berhasil menjadi petani kopi, yang paling maju juga baru sampai menyangrai biji kopi, dan itu semua belum sampai tahap penjualan," ujar Juli kepada Harianjogja.com, baru-baru ini.

Akibat tidak adanya hasil yang jelas dari penanaman kopi, masyarakat Tegalsari hanya bergantung pada hasil perkebunan lainnya yang cenderung tidak memiliki hasil yang tetap.

Padahal menurut Juli jika Tegalsari dapat menjadi kawasan pengasil kopi, maka Tegalsari Tegalsari bisa saja menjadi kawasan wisata berbasis perkebunan kopi. Terlebih lokasi Tegalsari yang strategis, karena dialit dua obyek wisata sekaligus. Yakin Goa Maria dan Wisata Ayunan Langit.

"Kami ingin membuka kedai kopi dan yang biji kopinya berasal dari kami sendiri. Tetapi masih terkendala pasokan kopi yang tidak konsisten. Padahal dengan memastikan sebagai penghasil kopi kami juga berpotensi sebagai kawasan wisata berbasis kopi," jelasnya.

Menurut Juki, dengan mengembangkan perkebunan kopi, warga Tegalsari yang mayoritas sebagai petani perkebunan tidak kebingungan untuk menanam apa di kebun mereka.

"Sekarang masih beragam, ada yang dicampur pohon kopi dengan lainnya. Padahal dulu sempat seragam untuk menanam teh, hanya sekarang berbeda beda," jelasnya.

Salah satu petani kopi Robusta di Tegalsari, Bambang Waluyo, sendiri masih kebingungan untuk mengolah kopinya. Pasalnya hasil biji kopi dsri 300 tanaman kopinya tidak bila dijual kepada pemasok karena masih kecilnya hasil dari panen.

"Enam bulan kurang baru saya tekuni lagi, baru dapat dua kilo buah yang masak di pohon," jelasnya.

Dengan alasan itu, bersama Kepala Dusun Bambang akan membuat gerai warung kopi sendiri dengan mengambil kopi dari kebun tetangganya. Namun hal itu masih jauh dari harapan pasalnya dirinya belum juga mendapatkan rasa yang tepat seperti yang diinginkan pecinta kopi.

"Masih bingung bagaimana rasa yang cocok, makanya hasil yang ada ganya untuk eksperimen saja dulu," katanya.

Selain belum konsistennya rasa akibat minimnya pengetahuan terkait rasa kopi, permasalahan biaya untuk membuka gerai warung kopi juga menjadi masalah untuk perkembangan kopi di Tegalsari.

"Karena kami bersama-sama ingin membuat Tegalsari sebagai penghasil biji kopi sekaligus pembuat minuman kopi. Ya konsep hulu ke hilir," jelasnya.