Bank Sampah Melati Membuka Kesempatan Warga yang Ingin Belajar Mengolah Sampah

04 Maret 2018 10:20 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Pengelolaan sampah merupakan salah satu persoalan yang masih terus dicari solusinya

 

 
Harianjogja.com, KULONPROGO-Pengelolaan sampah merupakan salah satu persoalan yang masih terus dicari solusinya. Di Kulonprogo, bank sampah mengambil peranan penting dalam melakukan pengelolaan dan pengolahan sampah, misalnya seperti yang dilakukan oleh Bank Sampah Melati.

Bank sampah yang berada di Dusun Kembang, Desa Margosari, Kecamatan Pengasih tersebut mampu mengambil manfaat dari sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Untuk sampah anorganik seperti botol, perca, dan plastik, mereka olah menjadi beragam kerajinan bernilai seni dan berdaya jual.

Pegiat Bank Sampah Melati, Fitriya Aflaha menuturkan, usaha kreasi berbahan sampah yang ia lakukan, awalnya merupakan aktivitas bank sampah yang kemudian juga berkembang menjadi usaha pribadi. Ia merasa kepepet karena ingin memiliki uang tambahan sampingan, namun ia sendiri adalah ibu rumah tangga yang harus menjaga anak-anak.

"Dari kecil saya juga suka mainan seperti ini, sekarang kalau lihat sampah, bawaannya ingin utik-utik. Ya sudah, kami beranikan diri ikut Manunggal Fair 2013," terang Fitri yang juga membangun usaha pribadi daur ulang sampah, ditemui di sela peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, beberapa waktu lalu.

Dari sampah-sampah yang awalnya hanya dibuang begitu saja, selanjutnya diubah menjadi bros, bunga, pajangan, hingga aksesori hijab, oleh Fitriya dan ibu-ibu lainnya. Ketika sudah jadi, bunga pajangan beserta potnya bisa dijual mulai dari Rp15.000, tergantung jumlah kuntum bunga, dan oasis [pengganti tanah].

Sedangkan untuk bros dari tutup botol yang disulap menjadi bentuk topi dengan hiasan bunga-bunga, dihargai mulai dari Rp7.000. Kalau yang lebih variatif lagi, ada bros dari perca yang dibanderol mulai dari Rp35.000. Ada juga hiasan yang dbuat dari sampah sisa-sisa bunga, kayu atau batok kelapa kering.

Baik produk bank sampah maupun produk hasil karya pribadinya, dipasarkan dengan mengoptimalkan media sosial serta ikut beragam pameran, hasil kriya ini dijual bukan hanya di Jogja dan sekitarnya, melainkan juga sampai ke Medan, Pangkalpinang dan beberapa tempat di Pulau Kalimantan.

Kalau menilik usaha pribadi milik Fitriya yang berlabel Teracraft, ia mampu menjual 100 hingga 150 buah aksesoris, jumlah itu terhitung pada masa sepi pesanan. Jumlah pesanan bisa jauh lebih banyak.

Fitri kerap kewalahan dalam melayani pesanan dalam jumlah banyak, karena keterbatasan tenaga. Bisnis yang ia geluti ini bukan hanya ingin mengambil untung sendirian, melainkan juga membuka kesempatan bagi banyak orang untuk belajar mengolah sampah. Mereka akan diberikan bahan-bahan untuk membuat hasta karya, atau bisa juga membawa sampah mereka sendiri yang sekira bisa didaur ulang.

"Kalau mau belajar, bisa ke bank sampah, atau ke rumah saya juga bisa," kata dia, yang mengaku bisa mendapat omzet Rp2 juta per bulan dari berjualan aksesoris daur ulang itu.

Salah seorang peserta belajar mengolah sampah daur ulang, Hasna Qurotainun mengungkapkan, ia senang bisa ikut belajar mengolah sampah daur ulang menjadi barang yang lebih berdaya guna. Siswa kelas I Madrasah Ibtidaiyah 2 Kulonprogo ini, senang mengkreasikan sampah karena kerap ikut ayahnya yang merupakan pegiat lingkungan.

"Kalau di rumah sudah diajarkan memilah sampah. Kadang sampah juga dikumpulin untuk dijadikan mainan," ujarnya.