12 Mahasiswa KKN UGM Dikirim ke Asmat

16 Maret 2018 08:40 WIB Sunartono Sleman Share :

Peserta KKN tak boleh izin sebelum 45 hari.

Harianjogja.com, SLEMAN--Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program KKN Peduli Bencana secara resmi memberangkatkan 12 mahasiswa ke Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Kamis (15/3/2018). UGM memberikan banyak persyaratan melalui seleksi dari puluhan mahasiswa yang mendaftar sebelum memutuskan memberangkatkan tim mahasiswa tersebut.

Sebanyak 12 mahasiswa itu yang dikirim terdiri atas 10 perempuan dan dua laki-laki. Mereka berasal dari Pendidikan Kedokteran 10 mahasiswa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ada satu mahasiswa dan satu lagi dari Geografi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) satu orang.

"12 mahasiswa ini hasil seleksi dari 45 yang mendaftar. Kemudian dilakukan berbagai macam tes termasuk kesehatan, psikologi dan lain. Selain itu, mereka harus mendapatkan izin dari kedua orang tua," terang Direktur Pengabdian Masyarakat UGM Prof. Irfan Dwidya Prijambada di sela-sela pelepasan mahasiswa ke Agats, Kamis (15/3/2018).

Ia menambahkan, biaya perjalanan dari Jogja sampai ke Agats, Papua, pulang pergi sepenuhnya ditanggung oleh UGM. Kemudian biaya hidup ditanggung oleh Pemkab Asmat, Papua. Ia mengakui, KKN tersebut tergolong paling mahal sama seperti sebelumnya mengirim mahasiswa ke Kabupaten Puncak, Papua. Meski demikian, ia enggan menyebut jumlah nominalnya. UGM, kata dia, sudah mengajukan proporsal bantuan ke PT Freeport, meski sebelumnya sudah ada kesanggupan melalui komunikasi melalui ponsel, namun hingga jelang pemberangkatan mahasiswa belum ada kejelasan. "Namun tetap kami berangkatkan menggunakan dana dari UGM," tegasnya.

Kepala Sub Direktorat KKN Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM Ambar Kusumandari menambahkan, KKN ke Agats itu dihitung 3 SKS dengan jam kerja efektif sebanyak 288 jam. Mereka diterjunkan dengan penuh aturan main dari etika dan tata tertib. Para mahasiswa itu tetap diwajibkan untuk membuat rencana program dan di akhir harus membuat laporan. "Mereka kalau sudah di lapangan, sangat tidak dimungkinkan izin kembali ke Jogja, harus sampai selesai 45 hari di lapangan. Baik mahasiswa dan DPL yang diberangkatkan ini kami asuransikan," ungkap dia.

DPL KKN ke Asmat UGM Fadli Kasim mengatakan, 12 mahasiswa itu akan menetap di satu tempat yaitu Distrik Agats. Namun, ia tetap memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan kegiatan di distrik lain di Kabupaten Asmat tentu dengan pendampingan warga atau pihak pemda setempat karena harus menggunakan speedboat dengan waktu antara satu hingga dua jam.

"Kalau toh ada kegiatan di distrik lain, kami tidak memperbolehkan lebih dari tiga hari karena untuk memudahkan koordinasi," kata pria yang pernah tinggal di Asmat saat berusia Sekolah Dasar medio 1979 ini.

Fadli mengklaim, KKN Peduli Bencana UGM ini merupakan pertama kali dalam sejarah adanya KKN ke Asmat. "Kalau Unhas yang mengirim beberapa waktu lalu itu sebagian besar merupakan dosen dan profesor," kata dia.

Namun pengiriman tim KKN UGM ke Asmat bukan karena viral di medsos soal Asmat yang mengalami gizi buruk, melainkan sudah direncanakan sejak 2017. Mengingat Pemkab Asmat secara resmi telah meminta bantuan untuk dikirim mahasiswa KKN. Kesepakatan dengan Pemkab Asmat sebenarnya akan dikirim pada Juni 2018 mendatang, namun diajukan pada Maret. "Karena untuk membuktikan apapun keadaannya, UGM selalu di depan terkait persoalan yang berhubungan dengan masalah kesehatan," ujarnya.

Tiga hal yang akan diusahakan untuk dibenahi tim mahasiswa antara lain, kemandirian ekonomi, pendidikan sosial budaya dan kesehatan. Karena pemerintah pusat sudah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB), maka program kesehatan menjadi prioritas utama. Guna memudahkan mahasiswa KKN selama perjalanan dan tinggal di Asmat, pihaknya mengerahkam berbagai daya tak terkecuali alumni UGM yang berada di Papua.

Pritania, mahasiswi Pendidikan Kedokteran UGM menyatakan, sebelum mengikuti tes, ia mulai mempelajari berbagai literatur tentang Asmat. Ia justru merasa tertantang untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat di ujung pulau Indonesia itu. Selain itu, keluarga sudah memberikan persetujuan. Beberapa program yang ingin ia coba terapkan di Agats seperti, penyuluhan gizi buruk, vaksinasi, MPASI, mendirikan pondok pandai, melakukan pemetaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia optimistis bisa menjalani segala program dengan baik selama di Asmat, Papua. "Sebelum berangkat ini kami sudah minum obat untuk mencegah malaria dan pilariasis [kaki gajah]," kata dia.