Menuju Kulonprogo Bebas Sampah 2025, Begini Langkahnya

Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, bersama perwakilan Kemenpupera mencoba alat pencacah limbah tas kresek sebelum menjadi campuran aspal di bank sampah induk Dhuawar Sejahtera, Dusun Kroco, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Rabu (5/9 - 2018).Harian Jogja/Uli Febriarni
11 September 2018 14:15 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pemkab Kulonprogo berkomitmen mewujudkan Kulonprogo Bebas Sampah 2025. Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, mengatakan komitmen itu sudah dimulai sejak 2011 dengan menginisiasi gerakan Kota Wates Zonder Container. "Dulu sempat ada kontainer sampah di sudut-sudut wilayah, tapi kemudian dihilangkan, karena membuat kawasan di sana menjadi terlihat kumuh," kata dia, Selasa (11/9/2018).

Pengelolaan sampah dilakukan berprinsip reduce, reuse dan recycle (3R), yaitu aktivitas mengurangi segala sesuatu yang dapat menimbulkan sampah dengan cara menggunakan kembali sampah yang layak pakai dan mengelolanya menjadi produk lain.

Hal itu dilakukan karena menurut Pemkab pengelolaan sampah wajib mengimplementasikan asas manfaat bagi masyarakat sekitar, sehingga perlu juga ada perubahan cara pandang dalam mengelola sampah. "Kalau sebelumnya menganggap sampah sebagai sesuatu yang tak berguna dan tidak berharga, maka kini harus diubah. Sampah terkadang seperti emas, apalagi setelah diolah menjadi produk lain yang lebih bernilai," ucapnya.

Kini Kulonprogo juga telah memiliki bank sampah induk yang diharapkan bisa menjadi motor penggerak untuk menumbuhkan bank sampah lain di sekitar permukiman. Ke depan minimal terbentuk satu bank sampah setiap satu desa di Kulonprogo.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulonprogo, Arif Prastowo, mengatakan dalam pengelolaan sampah di Kulonprogo, DLH memfasilitasi sarana dan prasarana bagi bank sampah di tiga lokasi menggunakan dana alokasi khusus (DAK) 2018.

Selain mewujudkan pengelolaan sampah yang optimal, upaya itu termasuk untuk mendukung program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia terkait dengan penggunaan sampah kresek plastik sebagai campuran aspal yang telah diresmikan belum lama ini.