Advertisement
Menyontek Wujud Renadahnya Moralitas Anak
Sejumlah siswa SD Seropan saat mengerjakan soal USBN di ruangan yang telah lama tidak dipakai, Kamis (3/5/2018). - Harian Jogja/David Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA--Sekolah memang bukan sebuah tempat di mana seluruh persoalan bangsa dapat diselesaikan. Namun sekolah menjanjikan banyak hal tentang perbaikan sebuah bangsa di masa depan. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran besar dalam membentuk karakter bangsa.
Namun sayang persoalan kualitas moral bangsa ini membuat menyontek menjadi hal yang kerap dilakukan oleh siswa bahkan di jenjang sekolah dasar (SD). Hal tersebut dikatakan Ichsan dalam disertasinya yang berjudul Pendidikan Nilai Kejujuran Pada Diri Siswa Berbasis Kelas dan Kultur Madrasah di MIN Jejeran Bantul.
Advertisement
Dikatakan Ichsan, perilaku tidak jujur yang menyebabkan siswa menyontek antara lain karena rendahnya moralitas, ada ketakutan-ketakuan tertentu berkaitan dengan prestasi akademik, ada kesempatan atau kemungkinan tidak ketahuan, budaya mengatrol nilai, dan tata peraturan yang membentuk struktur dan kultur sekolah. Untuk memberantas budaya curang tersebut pendidikan nilai yang menekankan kejujuran perlu lebih diperhatikan.
“Menyontek merupakan sisi gelap kehidupan para siswa,” ucap Ichsan, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan karakteristik nilai jujur untuk SD terbagi menjadi dua fase indikator perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
Untuk jenjang kelas I-III adalah tidak meniru jawaban teman (menyontek) ketika ulangan atau mengerjakan tugas di kelas, menjawab pertanyaan guru tentang sesuatu berdasarkan pengetahuannya, mau bercerita tentang kesulitan dirinya dalam berteman, menceritakan sesuatu kejadian berdasarkan sesuatu yang diketahuinya dan mau menyatakan tentang ketidaknyamanan suasana belajar di kelas.
Untuk jenjang kelas IV-VI tidak meniru pekerjaan temannya dalam mengerjakan tugas di rumah, mengatakan dengan sesungguhnya sesuatu yang telah terjadi atau yang dialaminya, mau bercerita tentang kesulitan menerima pendapat temanya, mengemukakan pendapat tentang sesuatu sesuai yang diyakini, dan mengemukakan ketidaknyamanan dalam belajar di sekolah. Hal ini disampaikan Ichsan sesuai dengan sumber dari Kementerian Pendidikan Nasional.
Berkat disertasinya ini Ichsan berhasil menjadi doktor ke-47 yang diluluskan oleh program Pascasarjana Psikologi Pendidikan Islam UMY pada 13 September dengan predikat nilai sangat memuaskan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Eks Kapolres Bima Kota Dipecat usai Terbukti Terlibat Kasus Narkoba
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Kisah Heroik Dukuh di Semanu, Meninggal Usai Selamatkan Mahasiswi KKN
- Regrouping SD di Kokap Ditolak, Wali Murid Datangi DPRD Kulonprogo
- TPS Liar di Seloharjo Bantul Ditutup, Pemilik Lahan Ngaku Kapok
- Anggaran Turun, Kota Jogja Hanya Rehab Satu Sekolah pada 2026
- Pledoi Mahasiswa UNY di PN Sleman, Minta Dibebaskan
Advertisement
Advertisement







