Air Gunungkidul Sebenarnya Melimpah, Tapi Tak Sampai ke Rumah Warga

Ilustrasi. - Reuters
24 Oktober 2018 23:50 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Wakil Bupati Immawan Wahyudi mengakui di Gunungkidul memiliki potensi sumber air yang melimpah. Hal ini disampaikan saat meninjau lokasi mata air di Goa Kedung Mbangsri, Dusun Blado, Girtirto, Purwosari, Rabu (24/10/2018).

Menurut dia, di lokasi ini memiliki sumber air yang melimpah. Hanya saja, potensi tersebut belum dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan bagi masyarakat. “Potensi ini akan saya sampaikan ke bupati, lalu disampaikan ke provinsi agar bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat,” katanya kepada wartawan, Rabu (24/10/2018).

Menurut Immawan, lokasi sumber air di Goa Kedung Mbangsri tidak beda jauh dengan karakteristik di Goa Begho yang juga berada di wilayah Kecamatan Purwosari. “Kalau Goa Begho untuk pemanfaatan butuh anggaran Rp1,6 miliar, sedang untuk Mbangsri diperkirakan anggaran untuk pemanfaatan sekitar Rp2 miliar,” katanya.

Untuk pemanfaatan sumber di Goa Mbangsri, Immawan sudah menyiapkan dua rencana. Pertama untuk jangka pendek dilakukan pemanfaatan secara darurat dengan mengangkat menggunakan genset guna mengangkat air sampai ke permukaan mulut goa.

Sedang rencana jangka panjang, merupakan lanjutan dari solusi jangka pendek dengan memasang sistem pipanisasi agar air bisa sampai ke rumah warga. “Untuk pemanfaatan memang harus ada koordinasi yang matang sehingga usaha tersebut dapat maksimal,” katanya.

Keberadaan sumber air yang belum dimanfaatkan dengan baik juga terlihat dari sumber air di luwen Pulejajar di Desa Jepitu, Girisubo. Di sumber ini, air sudah dapat keluar ke mulut goa dengan memanfaatkan gaya gravitasi yang ada di dalam luweng.

Meski demikian, air yang mengalir belum sampai ke rumah warga karena lokasi sumber berada di tengah hutan dan ada perbedaan ketinggian. Akibatnya, potensi yang ada belum dapat dimaksimalkan. “Untuk sekarang air yang keluar dari luweng baru dimanfaatkan oleh tangki pengangkut air yang sering menjual ke warga yang kekurangan air,” kata Pegiat Komunitas Merangkul Bumi (Kombi) di Desa Jepitu, Rubiyanto.