Perempuan Harus Manfaatkan TI untuk Bisnis

Para perempuan dari berbagai bidang mengikuti seminar bertema Perempuan dan Inovasi di Kampus Terpadu UII, Jumat (23/11/2018). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
23 November 2018 22:10 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Womenwill GBG Yogyakarta bekerjasama Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan seminar bertema Perempuan dan Inovasi di Kampus Terpadu UII, Jumat (23/11/2018). Para pembicara mengajak perempuan bisa memanfaatkan teknologi informasi (TI) untuk berinovasi dalam bisnis.

GBG merupakan komunitas pelaku bisnis yang disponsori Google. Komunitas ini dibentuk untuk berbagi wawasan, pengetahuan, dan pengalaman dalam teknologi Google untuk membantu kesuksesan bisnis. Womenwill Lead GBG Yogyakarta Istofani Api Diany mengatakan Womenwill ingin membekali perempuan dengan kegiatan digital, wirausaha, semangat berbisnis yang bisa dilakukan di rumah (inclusive workplace), dan jiwa kepemimpinan yang baik.

"Dengan teknologi, perempuan tidak terbatasi secara geografis. Perempuan di pelosok desa pun bisa memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar bisnisnya," katanya, Jumat.

Womenwill fokus memberikan pembekalan kepada usaha kecil dan menengah (UKM) karena postur ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh UKM yaitu sebanyak 60% terhadap pendapatan negara. UKM juga menyerap 97% tenaga kerja.

Dalam berbisnis, perempuan perlu melek teknologi digital salah satunya dengan membuat web tentang profil bisnis. Teknologi yang ada saat ini sudah memberikan kemudahan pada perempuan pebisnis untuk mempromosikan produknya baik secara berbayar atau tidak berbayar.

Ketua Ikatan Keluarga Ibu-Ibu (IKI) UII Nurul Indarti mengatakan pebisnis yang tidak memiliki daya saing dan tidak mau mengikuti perkembangan zaman, akan semakin terkikis dari pertarungan bisnis. Ia mencontohkan perusahaan Kodak akhirnya pailit setelah 133 tahun bertahan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang fotografi. Perusahaan ini tersaingi oleh perusahaan yang berhasil menawarkan kamera digital yang lebih canggih. "Ketika kita tidak mau bersaing, maka kita akan rugi," katanya.

Nurul mengatakan perempuan tidak perlu khawatir terhadap pasar yang akan disasar karena menurut dia, pasar Indonesia paling dominan se-Asia. Artinya masyarakat Indonesia menjadi konsumen yang besar bagi produk-produk yang diciptakan.

Sayangnya, daya inovasi dan adopsi teknologi di kalangan pebisnis masih rendah. Kemampuan inovasi UKM relatif masih rendah dan berbasis inkremental atau melakukan perubahan dari yang sudah ada. Inovasi juga hanya berdasarkan pesanan bukan pada kebutuhan internal.

Selain itu, inovasi berbasis konteks lokal masih sangat jarang. Padahal produk lokal yang muncul memberikan nuansa yang berbeda dengan produk lain. "Kalau mau meningkatkan level ekonomi Indonesia, ibu-ibu bisa melakukan inovasi," katanya.

Selain akses pada teknologi informasi yang masih kurang, kurangnya ketersediaan teknologi yang relevan juga memicu pebisnis tidak mampu mengembangkan usahanya dengan baik. Nurul mengatakan selama ini masih ada pihak-pihak tertentu seperti dinas terkait yang memberikan terobosan teknologi tetapi ternyata tidak dibutuhkan UKM.