Pendidikan Keselamatan Berlalulintas Dimulai dari Ibu

Para siswa TK Kemala Bhayangkari Baciro Jogja menampilkan pertunjukan polisi cilik dalam acara dialog bersama dan talk show bertema Stop Pelanggaran, Cegah Kecelakaan, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo MM FEB UGM, Selasa (27/11/2018). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
27 November 2018 21:10 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Upaya menurunkan angka kecelakaan lalu lintas menjadi tanggung jawab semua pihak. Tidak hanya dari kalangan kepolisian tetapi ibu rumah tangga juga diharapkan mau berpartisipasi menjadi guru tertib berlalu lintas bagi anak-anak.

Hal tersebut disampaikan perwakilan Gachon University Huh Eok saat melaporkan Program Keselamatan Lalu Lintas Anak 2017-2018 dalam dialog dan talk show bertema Stop Pelanggaran, Cegah Kecelakaan, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo MM FEB UGM, Selasa (27/11/2018).

Program ini merupakan hasil kerja sama Gachon University dengan UGM yang didukung oleh Samsung Electronics dan Koica. Pada tahap awal, program akan dilaksanakan selama tiga tahun. Namun dalam perkembangannya, Gachon University ingin memperpanjang kerja sama lagi menjadi enam tahun.

Huh Eok mengatakan sebelum menerapkan program ini di Jogja, hal yang sama sudah dibuktikan di Korea. Di mana dari hasil melakukan proyek serupa selama 20 tahun telah mampu mengurangi angka kecelakaan pada anak-anak sebesar 95%. Pada sekitar 1990 mencapai 1.600 korban sementara pada tahun lalu tinggal 50 orang. "Kami mulai proyek ini untuk negara berkembang," kata Huh Eok, Senin.

Proyek yang memakan dana Rp10 miliar ini diaplikasikan dengan mendistribusikan buku tertib lalu lintas ke sekolah TK dan SD di Jogja. Ada pula kegiatan membagikan helm gratis sampai 4.000 helm, produksi dan distribusi video tentang keselamatan berlalu lintas anak, sampai membuat bahan ajar dalam bentuk kartun.

Pelatihan keselamatan berlalu lintas juga diberikan kepada ibu rumah tangga dan mahasiswa S-2 yang studi lanjut di UGM. "Ibu rumah tangga harus berpartisipasi. Di Korea, peran ibu rumah tangga sangat penting karena mereka bisa menjadi guru bagi anak-anaknya," kata Huh Eok.

Dekan Fakultas Teknik UGM Nizam mengakui tingkat kecelakaan lalu lintas yang tinggi menjadi salah satu faktor pembunuh manusia selain penyakit. Menurut dia, kecelakaan itu bisa dihindari jika manusia melakukan upaya prevensi dan edukasi.

"Maka program seperti ini perlu digulirkan mulai tingkat keluarga karena amat mendasar untuk lahirnya ketertiban di jalan raya. Ini bukan tugas kepolisian atau DLLAJR [Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya] tetapi kita semua," jelasnya.

Vice President Samsung Indonesia Lee Gang Hyun yang juga hadir dalam dialog tersebut mengakui dirinya jarang melihat ada rambu-rambu keselamatan lalu lintas di kawasan sekolah di Indonesia. Padahal hal tersebut sangat diperlukan untuk keselamatan para siswa dan pengguna jalan.

"Maka saya dukung program ini. Saya dengar [selama program sudah berjalan satu tahun], sudah ada berkurangnya angka kecelakaan. Semoga bisa menyebar ke daerah lain," jelas dia.

Kepala Dinas Perhubungan DIY Sigit Sapto Raharjo yang membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan keselamatan transportasi jalan adalah masalah global yang tidak semata-mata menjadi masalah bidang transportasi tetapi sudah merambah ke aspek sosial. Ia menegaskan kecelakaan bukanlah nasib karena kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran pengguna jalan.

Berdasarkan data Dirjen Perhubungan penyebab kecelakaan lalu lintas sebanyak 93,52% adalah karena pengemudi itu sendiri. "Karena lelah, mengantuk atau mabuk," katanya. Penyebab selanjutnya adalah kondisi jalan raya 3,23%, kondisi kendaraan 2,76%, dan faktor lingkungan 0,49%.

"Dari data kepolisian, kecelakaan terus meningkat. Maka perlu dilakukan pencegahan sebagai bentuk kepedulian dan menyelamatkan penerus bangsa. Budaya keselamatan berkendara sejak dini harus ditanamkan," katanya.