Advertisement
Karena Gaya Hidup, Anak Milenial Banyak Gagal Berbisnis
Chairman CT Corp Chairul Tanjung mengisi Executive Lecture Series pertama yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM) di University Club (UC), Jumat (30/11/2019). - Harian Jogja/Bermadheta Dian Saraswati
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN--Era disrupsi akan membawa banyak tantangan dan peluang. Kaum milenial perlu mengubah paradigma berpikir untuk menjadi enterpreneur yang inovatif guna menjawab tantangan dan peluang yang ada.
Chairman CT Corp Chairul Tanjung mengatakan perubahan paradigma cara berpikir perlu dilakukan jika ingin menjadi enterpreneur. Dulu, untuk menang kompetisi bisnis, seseorang hanya butuh lebih efisien dan produktif dibandingkan orang lain.
Advertisement
"Sekarang enggak hanya butuh itu tetapi untuk menang di kompetisi butuh inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship," kata Tanjung saat mengisi Executive Lecture Series bertajuk Kepemimpinan dan Inovasi di Era Disrupsi, Dari Anak Singkong ke Pemimpin Inovatif di University Club (UC) Universitas Gadjah Mada, Jumat (30/11/2018).
Tanjung menjelaskan inovasi adalah sebuah proses penciptaan nilai tambah, sementara kreativitas adalah daya berpikir out of the box. Inovasi bisa muncul dari hal yang tak terduga, ketidakselarasan, kebutuhan proses, perubahan dalam struktur industri atau pasar, demografi, pengetahuan baru, perubahan persepsi.
Di bidang pendidikan perubahan paradigma juga perlu dilakukan. Para dosen harus mengubah paradigmanya dari knowledge university, research university, menjadi enterpreneur university. Tanjung mengatakan kampus harus mulai mengubah paradigma untuk mencetak lulusan enterpreneur bukan pegawai atau buruh.
Pria yang menjadi pengusaha terkaya nomor lima di Indonesia 2018 versi majalah Forbes ini mengatakan sebanyak 47% anak milenial ingin keluar dari pekerjaannya di kantor karena ingin menjadi pengusaha. Sayangnya kaum milenial yang mulai berpikir ke arah enterpreneur ini memiliki eksekusi bisnis yang lemah. Tingkat kesuksesannya bermasalah karena hasil usaha banyak dimanfaatkan untuk konsumsi.
"Pengusaha berumur 30 tahun ke bawah yang usahanya mati ada lebih dari 50 persen. Artinya makin muda, derajat kegagalannya dalam membangun usaha semakin tinggi. Bukan karena usianya tetapi karena gaya hidupnya yang membuat tidak sukses," katanya.
Direktur Pusat Studi Kependudukan UGM Agus Heruanto Hadna mengatakan Executive Lecture Series merupakan program baru yang diselenggarakan Program Magister dan Doktor Studi Kebijakan UGM. Kegiatan tersebut akan berlangsung setiap bulan dan mendatangkan aktor besar dari berbagai bidang, mulai dari kalangan pengusaha, pemerintah, single society dalam maupun luar negeri, dan juga politikus.
"Untuk Executive Lecture Series yang pertama, kami hadirkan Pak Chairul Tanjung, seorang pengusaha sukses dan menurut kami netral tidak condong ke [calon presiden] nomor satu atau dua," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Advertisement
Berita Populer
- Pembatasan Medsos Anak di DIY Diperketat Mulai 28 Maret
- 42 Masjid di Sleman Dibuka 24 Jam untuk Pemudik Lebaran
- 27 Lurah Gunungkidul Wajib Lapor LHKPN, Tujuh Belum Serahkan
- Tol Jogja-Solo Prambanan-Purwomartani Dibuka Fungsional Lebaran 2026
- Prabowo dan Sri Sultan HB X Dijadwalkan Hadiri Seminar Sultan HB II
Advertisement
Advertisement








