Lebih dari 100.000 Orang di DIY Telah Disuntik Vaksin
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Mujiono tengah menunjukan stok pupuk yang masih tersisa di rumahnya di Desa Playen, Kecamatan Playen, Kamis (6/12/2018)./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjoga.com, GUNUNGKIDUL-Kelangkaan pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska dan SP 36 melanda Kecamatan Playen. Petani khawatir jika kelangkaan ini berlanjut maka produksi padi yang tengah mereka tanam akan menurun.
Salah seorang petani asal Desa Playen, Kecamatan Playen, Mujiono, 44, mengungkapkan sejak sebulan terakhir ini dia beserta para petani sekitar sulit mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut.
“Sudah komunikasi dengan ketua kelompok tani tapi disampaikan, stok pupuk bersubsidi [NPK Phonska dan SP36] telah habis, itu aneh seharusnya stok masih ada mengingat masa tanam baru berjalan 30 hari," ucap Muji, Kamis (6/12/2018).
Muji mengatakan selama keberadaan kedua jenis pupuk tersebut penting bagi keberlangsungan padinya. Sebab pupuk Phonska dan SP 36 dibutuhkan untuk mendapatkan tanaman padi dengan hasil gabah yang berisi. Jika hanya dipupuk dengan pupuk jenis urea maka ancaman terbesarnya adalah tanaman mati karena hama kresek yang berimbas pada penurunan produksi.
Hal itu pernah dialami Muji pada saat musim tanam sebelumnya. Diketahui tanaman padinya diserang hama kresek yang membuat daun layu dan mengering. Setelah ditelisik hama tersebut dipicu oleh penggunaan pupuk jenis urea. Dia lantas mengadu ke Dinas terkait dan dari disarankan agar petani beralih menggunakan pupuk jenis NPK Phonska dan Sp36.
"Kalau hanya mengandalkan pupuk jenis urea itu justru tidak baik untuk tanaman, karena jadi rawan terserang hama kresek, sehingga pemakaiannya harus imbang, namun sekarang barangnya malah langka," ujarnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul Raharjo Yuwono saat dikonfirmasi membenarkan adanya keluhan para petani terkait kelangkaan pupuk bersubsidi di wilayah Kecamatan Playen.
Dia berjanji jawatannya akan segera melakukan monitoring dan evaluasi atas permasalahan ini. “Ini sedang kami cek ke distributor, tapi seharusnya masih ada stok, setidaknya ada prediksi tinggal 10%. Seperti di Kecamatan Patuk seharusnya masih ada 14 ton yang belum ditebus," ucap Raharjo.
Raharjo menjelaskan sejauh ini NPK Phonska per Oktober 2018 sudah tersalur alokasi 5.765 ton atau sekitar 95%. Sementara jenis Sp36 alokasi sampai dengan Oktober penyaluran 749 ton dari kuota 907 ton atau 82.6%.
“Kami cari data dan cocokan apa masalahnya. Semoga setelah tanggal 11 Desember 2018 tidak ada masalah,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Pencegahan stunting tidak hanya difokuskan pada anak, karena ibu juga harus mendapat perhatian.
PAD wisata Bantul baru Rp8,4 miliar hingga Mei 2026, turun dari tahun lalu. Faktor ekonomi dan kunjungan jadi penyebab.
DPAD DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah di Rompok Ndeso, Kuwaru RT 02, Kalurahan Poncosari, Bantul.
Wali Kota Jogja Hasto dorong kampung wisata jadi ruang belajar. Turis asing diusulkan ikut mengajar anak-anak.
Jadwal KRL Solo–Jogja Jumat 22 Mei 2026 kembali normal. Cek jam keberangkatan lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.