Pantai Glagah Masih Jadi Favorit Wisatawan

Objek wisata Pantai Glagah, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Minggu (6/1/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
06 Januari 2019 22:15 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pantai Glagah masih menjadi objek wisata andalan sekaligus paling banyak dikunjungi wisatawan. Merujuk Data Dinas Pariwisata (Dispar) Kulonprogo ihwal jumlah kunjungan wisatawan selama 2018, tercatat ada 519.739 berwisata yang berkunjung ke pantai yang berlokasi di Desa Glagah, Kecamatan Temon tersebut.

Jumlah ini mengalahkan objek wisata seperti Waduk Sermo, Pantai Congot, Puncak Suroloyo, Nglinggo, Tritis, Gua Kiskendo dan Kawasan Kali Biru yang rata-rata berkisar di bawah 100.000 kunjungan.

Masih di data yang sama, dengan jumlah kunjungan sebanyak itu menjadikan Pantai Glagah sebagai penyumbang terbesar pendapatan asli daerah (PAD) di sektor pariwisata dengan angka Rp2,6 miliar dari total PAD wisata Kulonprogo yang diperoleh pada 2018 sebesar Rp4 miliar.

"Dari tahun ke tahun yang selalu menjadi primadona adalah Pantai Glagah, jumlahnya terus meningkat baik kunjungan maupun pendapatan retribusi wisata," kata Kepala Dispar Kulonprogo, Niken Probo Laras saat ditemui Harian Jogja di kantornya, Jumat (4/1/2019).

Banyaknya kunjungan wisatawan ke Pantai Glagah, menurut Niken, berkaitan dengan adanya pembangunan bandara baru New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA). Dimungkinkan wisatawan tidak hanya ingin mengunjungi pantai tetapi juga penasaran sejauh mana progres bandara yang digadang-gadang akan beroperasi pada April 2019 itu.

Pendapat Niken diamini Koordinator SAR Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulonprogo, Aris Widiatmoko. Dia mengungkapkan banyak wisatawan selain hendak berwisata pantai juga menanyakan lokasi pembangunan bandara. "Beberapa kali kami ditanya oleh para wisatawan di mana sih lokasi pembangunan bandara, dari pertanyaan itu kami simpulkan bahwa adanya bandara juga menarik minat mereka [wisatawan] mengunjungi pantai ini," kata Aris saat ditemui Harian Jogja di sela-sela tugasnya mengawasi wisatawan di Pantai Glagah, Minggu (6/1/2019).

Kenaikan jumlah wisatawan Pantai Glagah dengan adanya pembangunan bandara, menurut Aris, sudah muncul sejak dua tahun belakangan. Hal ini berdampak pada meningkatnya perekonomian warga sekitar khususnya yang tergabung dalam paguyuban pelaku usaha di pantai tersebut.

Namun di sisi lain, kata Aris, banyaknya jumlah kunjungan ini turut mempengaruhi kenaikan peristiwa laka laut di Pantai Glagah. Pihaknya mencatat sepanjang 2018 terdapat 25 kasus. Jumlah ini meningkat dibanding 2017 sebanyak 11 peristiwa. "Tahun lalu [2018] terjadi peningkatan, ada yang luka-luka sampai meninggal dunia. Namun tidak semua korbannya wisatawan, ada juga warga sekitar yang bekerja sebagai nelayan," katanya.

Ia mengungkapkan Pantai Glagah termasuk dalam pantai yang rawan lantaran kondisi geografis yang dipenuhi palung. Hal ini diperparah dengan ketiadaan pemecah ombak alami seperti yang banyak dijumpai di kawasan pantai di Bantul dan Gunungkidul.

"Bisa dibilang pantai di Kulonprogo, tidak hanya Glagah, langsung menjorok ke laut lepas, tidak ada pulau atau tebing seperti di Gunungkidul maupun Bantul, sementara pemecah ombak yang dibangun sekarang juga masih kurang optimal," kata Aris.

Terjangan ombak yang langsung menerpa pinggir pantai itulah menjadi salah satu penyebab laka laut kerap terjadi. Meski demikian Aris memastikan selama wisatawan mentaati aturan keselamatan yang telah terpasang di sejumlah titik pantai di Glagah, maka laka laut tidak akan terjadi. Sejumlah langkah antisipasi oleh pihaknya juga menjadi jaminan keselamatan para wisatawan tersebut.

"Kami siaga dari pagi sampai sore, kalau pas hari libur bisa sampai malam seperti saat libut Natal dan Tahun Baru 2019, untungnya tidak ada peristiwa laka laut," kata Aris.

Ke depan, Aris berharap banyaknya kunjungan wisatawan seiring dengan beroperasinya NYIA jajarannya mendapat tambahan sarana prasarana penunjang keselamatan wisatawan. Salah satu yang menurutnya vital adalah ketersediaan ambulans.

"Adanya NYIA kunjungan wisata itu pasti melonjak, sementara kami hanya memiliki 38 personel untuk mengampu Pantai Trisik sampai kawasan mangrove di Pantai Congot, Oleh karena itu sarpras perlu ada seperti ambulans untuk mengangkut korban laka laut dan peningkatan sumber daya manusia," katanya.