Jumlah Guguran 30-50 Kali, Pertumbuhan Kubah Merapi Disebut Masih Lambat

Foto terjadinya guguran kubah lava dari Kaliadem, Sabtu (29/12/2018). - Ist/ Gitsayanto via Twitter BPPTKG
22 Januari 2019 06:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Meskipun berkali-kali Gunung Merapi mengeluarkan guguran lava pijar, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja menegaskan jika saat ini pertumbuhan kubah masih lambat. 

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan sampai saat ini tidak ada perubahan aktivitas yang signifikan meskipun guguran lava pijar Gunung Merapi sering terjadi belakangan ini. Kondisi tersebut juga tidak mengubah status Merapi pada level II (waspada).

"Ya memang karena masih ada aktivitas di atas normal, maka status Merapi masih waspada," jelasnya kepada Harian Jogja, Senin (21/1/2019).

Status tersebut, lanjut Hanik, dasarnya bukan pada letusannya tetapi pada potensi bahaya dan ancamannya. Hal itu perlu dipahami oleh masyarakat. Guguran yang terjadi di Merapi juga tidak selalu terjadi setiap hari. Guguran yang terjadi juga tidak selalu berupa lava pijar. Aktivitas guguran tersebut merupakan fenomena biasa akibat pertumbuhan kubah lava.

Pihaknya menilai jumlah guguran yang terjadi setiap hari antara 30 hingga 50 kali. Jumlah tersebut masih rendah jika dibandingkan erupsi 2010 di mana jumlah guguran tercatat ratusan kali dalam sehari. Erupsi Merapi saat ini belum bisa dipastikan. 

"Yang pasti saat ini terjadi erupsi efusif dengan ditandai pertumbuhan kubah lava dan sampai saat ini kubah lava masih tumbuh dengan kecepatan tumbuh yang rendah," kata Hanik.

Sekadar diketahui, berdasarkan Laporan Kegempaan Merapi per tanggal 20 Januari 2019 tercatat 35 kejadian. Rinciannya guguran terjadi sebanyak 28 kali, hembusan empat kali, low frekuensi, tektonik lokal dan tektonik jauh masing-masing sekali. Adapun aktivitas Merapi hingga Senin (21/1) pagi terjadi 10 kali guguran 10 kali dengan durasi 12-48 detik.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantara mengatakan jalur evakuasi sudah disiapkan termasuk juga barak pengungsian jika sewaktu-waktu ada perubahan status gunung Merapi. "Itu sudah menjadi kebijakan Pemda dan SOP dalam evakuasi bila terjadi hal-hal yang perlu direspon dengan evakuasi," katanya.

Sampai saat ini, lanjut Biwara, kubah lava masih stabil dan pertumbuhannya juga rendah. Dengan status waspada yang ditetapkan, maka rekomendasi yang diberikan masih sama alias tidak berubah. Aktivitas masyarakat tidak boleh dilakukan di area 3km dari puncak gunung. "Tentu upaya meningkatkan  kewaspadaan terus ditingkatkan, termasuk mengkondisikan masyarakat yang ada di kawasan KRB III," katanya.