Tol Bawen-Jogja Bikin Distribusi Barang ke Pelabuhan Lebih Efisien
Pemkab Temanggung menilai Jalan Tol Bawen-Jogja mempercepat distribusi barang ke pelabuhan, meningkatkan efisiensi logistik, dan mendukung investasi.
Ilustrasi foto kubah lava baru Merapi/Ist-BPPTKG
Harianjogja.com, SLEMAN - Sebanyak 21,8% warga sekitar lereng merapi masih ada yang belum memahami jalur evakuasi yang tepat untuk menyelamatkan diri ketika gunung berapi itu mengalami peningkatan aktivitas. Hal itu terungkap dalam penelitian Dwi Handayani Dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) dengan judul Analisis Dinamika Evakuasi saat Bencana Letusan Gunung Api-Studi Kasus Gunung Merapi, Sleman.
Dwi menjelaskan, sosialisasi terhadap warga lereng merapi harus terus ditingkatkan terutama dalam hal persiapan evakuasi. Berdasarkan hasil penelitiannya masih ada waraga yang belum mengetahui secara tepat jalur evakuasi, dengan jumlah persentase 21,8% yang tidak paham, sedangkan sebanyak 78,2% telah memahami jalur. Penelitian itu dilakukan dengan mengambil sebanyak 417 responden warga lereng merapi. "Ternyata masih ada juga warga yang kurang memahami jalur evakuasi," terangnya dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Senin (28/1/2019).
Ia menambahkan, selain itu masih ada sekitar 18% warga yang tidak memiliki kendaraan untuk mengevakuasi diri, sedangkan tercatat 81,5% yang memiliki kendaraan. Terdiri atas motor 75,6%, motor dan mobil sebanyak 5,8%. Warga yang memilih evakuasi dengan kendaraan pribadi sebanyak 64,7%. "Soal jumlah hewan piaraan warga yang juga harus diperhatikan dalam evakuasi ini, hasilnya ada 75,8% warga memiliki hewan piaran dan 24,25 tidak memiliki. Dari angka yang memiliki itu paling banyak sapi 40,41% dan unggas 34,5%," katanya.
Dwi berharap hasil penelitiannya bisa menjadi referensi bagi pemerintah untuk melakukan persiapan evakuasi. Penelitiannya menghasilkan beberapa usulan perbaikan terhadap sistem evakuasi bencana letusan Gunung Merapi antara lain, skenario terbaik untuk meminimalkan jumlah korban jiwa saat bencana letusan berdasarkan kasus 2010 adalah skenario nomor satu, yaitu menambah persentase masyarakat siap.
"Apabila mampu menekan egress time dibawah 15 ticks atau 56,2 menit, setelah letusan terjadi maka, skenario berdasarkan hasil simulasi terbaik untuk meminimalkan korban jiwa maupun memaksimalkan jumlah persentase penduduk yang selamat. Membangun bangunan non-permanen misalnya untuk kegiatan pariwisata pada zona KRB III masih dapat dilakukan selama seluruh elemen masyarakat mampu bersikap waspada, tanggung jawab dan tangguh terhadap bencana letusan gunung Merapi," kata wanita dengan gelar doktor ini.
Selain itu, lanjutnya, perlu menemukan pola mekanisme interaksi masyarakat saat evakuasi bencana erupsi gunung Merapi kemudian melakukan simulasi dan menganalisis dinamika sistem evakuasi bencana letusan melalui beberapa skenario. Lalu menguji keefektifan sistem evakuasi dan zonasi dalam upaya mitigasi risiko evakuasi tersebut melalui pemodelan simulasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Temanggung menilai Jalan Tol Bawen-Jogja mempercepat distribusi barang ke pelabuhan, meningkatkan efisiensi logistik, dan mendukung investasi.
BMKG memprakirakan cuaca DIY pada Selasa 28 Juli 2026 didominasi berawan dan cerah berawan. Suhu udara berkisar 19-31 derajat Celsius di lima kabupaten/kota.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya hari ini berdasarkan data resmi KAI Access.
Pemkab Kulonprogo menargetkan pengadaan tanah kas pengganti Kalurahan Palihan rampung Oktober 2026 setelah tim dibentuk dan audit selesai.
Hari Jadi ke-222 Klaten diperingati 28 Juli. Bupati terdahulu menyampaikan doa dan harapan agar Klaten semakin maju dan sejahtera.
Pemkab Gunungkidul menyusun Perbup Insentif dan Disinsentif Kendali Ruang untuk mendorong investasi berkelanjutan sekaligus menjaga lingkungan.