Baru Januari, Kasus DBD di Kulonprogo Sudah 5

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
29 Januari 2019 07:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Selama Januari ini, Puskesmas Pengasih I sudah menerima lima pasien kasus Demam Berdarah (DBD). Padahal pada 2018 saja, kasus DBD hanya mencapai lima kasus setahun.

Kepala Puskesmas Pengasih I, Setiaji Wibowo mengatakan, pihaknya akan mengantisipasi adanya pola enam tahunan DBD di Kulonprogo. Namun, menurutnya, lonjakan terjadi pada Januari ini, belum sampai pada analisa karena siklus tersebut.

"Kita memang belum memastikan seperti apa siklus enam tahunan itu. Tapi yang jelas karena kasusnya di Januari saja sudah melonjak, maka kami tingkatkan pencegahan secara intensif," ujar Setiaji pada Harian Jogja, Senin (28/1/2019).

Beberapa upaya pencegahan yang dilakukan oleh Puskesmas Pengasih I antara lain dengan Penyelidikan Epidemiologi (PE) DBD, selain itu pihaknya menggatakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ke lingkungan warga.

"Karena yang paling utama pemberantasan sarang nyamuk antisipasinya kerjasama dengan lintas sektoral. Maka kami juga kordinasi lintas sektoral mulai tingkat kecamatan, desa, sampai pedukuhan," jelas Setiaji.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kulonprogo, pada 2018 terjadi peningkatan jumlah penderita DBD di Kulonprogo. Tahun lalu jumlah penderita DBD mencapai 109 orang. Sementara di 2017 mencapai 79 orang.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayujati, jika merujuk pada pola enam tahunan peningkatan kasus DBD di Kulonprogo, maka sebenarnya pola tersebut akan terjadi di 2022. Hal tersebut merujuk pada lonjakan kasus yang tinggi DBD pada 2016 mencapai 381. Sementara sebelumnya, lonjakan kasus pun terjadi di 2010 yang mencapai 472 kasus.

Menurut Baning, kemungkinan pola enam tahunan peningkatan kasus DBD di Kulonprogo bisa saja terjadi, namun sekarang pola tersebut juga bisa saja berubah.

"Pola musim kita sekarang berubah. Ada hujan sepanjang tahun itu sangat berpengaruh, mungkin saja jumlah kasus bisa menurun tapi penyebarannya meluas. Kalau dulu kebanyakan di daerah datar, tapi sekarang di wilayah pegunungan juga mulai ada," kata Baning.