Harga Anjlok dan Serangan Hama, Petani Cabai di Sleman Merugi

Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji, Desa Bugel, Panjatan, Sukarman, membongkar tanaman cabai di lahannya di Desa Bugel, Senin (11/2/2019).-Harian Jogja - Fahmi Ahmad Burhan
13 Februari 2019 06:57 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Anjloknya harga komoditas cabai membuat petani di Sleman merugi. Selain itu, serangan hama patek juga semakin memperparah keadaan tersebut.

Abdul Basar, 40, salah seorang petani cabai di Dusun Prigen, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak mengatakan penurunan harga cabai ini sudah berlangsung sejak dua minggu terakhir. Ia menjelaskan, saat ini, harga cabai keriting sekitar Rp6.000 per kilogram (kg), cabai rawit merah Rp11.000 dan cabai cempluk Rp9.000 per kg.

"Padahal Desember hingga Januari lalu rata-rata harga bisa sampai Rp40.000 perkilo," kata dia pada Selasa (12/2/2019).

Lebih lanjut, ia mengatakan, penurunan harga tersebut juga dibarengi dengan serangan hama patek dan busuk batang. Kondisi tersebut membuat dirinya semakin merugi. "Untuk bayar orang memetik dan beli obat hama itu semakin membuat tidak balik modal," ujar dia.

Terkait dengan adanya pasar lelang selama ini, menurutnya cukup membantu petani. Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, lanjut dia, pada 2019 ini juga akan memberikan bantuan pengembangan cabai di 10 hektare lahan di Ngemplak, Cangkringan, dan Kalasan.

"Itu nanti pada musim tanam kedua, semoga saja bisa membantu petani," ucap dia.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Heru Saptono mengatakan penurunan harga komoditas cabai ini disebabkan produksi cabai sedang meningkat di Indonesia atau sedang memasuki panen raya.

"Kedepan kami coba buka akses dari petani ke pasar lelang terus ke pedagang pasar Sleman, karena selama ini, di pasar lelang yang membeli kebanyakan pedagang luar sleman sehingga harga menjadi tidak klop dengan harga pasar lokal," ucap dia.

Terkait dengan serangan hama patek, ia mengatakan hal tersebut terjadi karena udara lembab seperti musim hujan saat ini. Jajarannya, kata dia, sudah memberikan solusi di pengendalian hama terpadu yang semakin diintensifkan.

"Beberapa kali juga para petani dilatih di sekolah lapang cabai, sehingga petani bisa mengatasi permasalahan tersebut," ucap dia.