Panen Jagung Melimpah, Petani Berharap Harga Tetap Stabil

Bupati Gunungkidul Badingah (kanan) saat panen raya jagung di Desa Getas, Kecamatan Playen, Senin (18/2/2019). - harian Jogja/David Kurniawan
18 Februari 2019 21:15 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Petani di Gunungkidul berharap harga jagung bisa terus stabil. Pasalnya, jika harga naik turun maka petani akan rugi. Flukutasi harga jagung terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Sebagai contoh pekan lalu harga jagung pipil berada di kisaran Rp5.000 per kilogram, sedangkan pada Senin (18/2/2019) turun menjadi Rp3.500 per kilogram.

Keluhan naik turunnya harga jagung ini salah satunya disuarakan oleh Ponijem, petani jagung asal Desa Getas, Kecamatan Playen. Menurut dia harga jagung kering pipil dipasarkan Rp3.500 per kilogram. “Sudah turun karena harga sebelumnya sempat tembus Rp5.000 per kilogram,” kata Ponijem kepada wartawan, Senin.

Menurut dia turunnya harga jagung menjadi pukulan bagi petani. Terlebih lagi saat ini petani sedang memasuki masa panen. “Ya kalau terus turun kami yang rugi,” katanya.

Ia berharap pemerintah bisa menjaga harga komoditas jagung tetap stabil. Menurut Ponijem, harapan petani tidak muluk-muluk dengan meminta harga yang tinggi. Pasalnya, jika harga terlalu tinggi, jagung juga tidak laku di pasaran. “Harga Rp4.000 sudah baik, kalau harganya lebih tinggi nanti tidak laku di pasaran,” katanya.

Turunnya harga jagung kering diamini oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto. Menurut dia harga jagung cenderung turun karena pekan lalu sempat tembus Rp5.000 per kilogram. Dia menduga turunnya harga disebabkan karena saat ini memasuki masa panen sehingga stok jagung di pasaran melimpah.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto, saat menghadiri panen raya jagung di Desa Getas, Kecamatan Playen, mengatakan pemerintah terus berupaya agar harga komoditas tidak naik turun. Menurut dia salah satu upaya yang dilakukan dengan memberikan bantuan mesin pengering. “Mesin pengering bisa digunakan seaktu-waktu sehingga tidak terpaku pada cuaca. Harapan kami untuk menjaga petani juga ikut berpartisipasi dengan cara tidak menjual jagung secara serempak,” katanya.

Selain terus melakukan pengawasan di lapangan, untuk tahun ini pemerintah menargetkan produksi jagung mencapai 30 juta ton. “Mudah-mudahan target ini bisa terpenuhi,” katanya.

Di dalam panen raya ini juga dilaksanakan kesepakatan antara kelompok tani dengan himpunan peternak kecil. Kerja sama bertujuan untuk menyerap hasil panen di Desa Getas di lahan seluas 135 hektare atau setara 1.080 ton. Untuk harga jual dipatok Rp3.650 per kilogram dengan catatan kadar air 17%.